Bisnis

Harga Kelapa Sawit Anjlok, Petani Mengeluhkan Dampaknya

×

Harga Kelapa Sawit Anjlok, Petani Mengeluhkan Dampaknya

Share this article
Harga Kelapa Sawit Anjlok, Petani Mengeluhkan Dampaknya
Harga Kelapa Sawit Anjlok, Petani Mengeluhkan Dampaknya

GemaWarta – 03 Juni 2026 | Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Utara masih berada jauh di bawah harga acuan yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data harga TBS tingkat produsen non-mitra per 2 Juni 2026, harga pembelian TBS di sejumlah pabrik kelapa sawit di Bengkulu Utara berkisar antara Rp2.100 hingga Rp2.370 per kilogram.

Harga tertinggi tercatat di PT Bumi Anugerah Sawit, sebesar Rp2.370 per kilogram. Sementara harga terendah berada di PT Sawit Mulia dengan harga Rp2.100 per kilogram. Hasil penetapan Tim Harga TBS Provinsi Bengkulu periode kedua Mei 2026 menetapkan harga TBS sawit umur produktif sebesar Rp3.465 per kilogram.

🔖 Baca juga:
Helikopter PK-CFX Jatuh di Sekadau: Kronologi Lengkap, Daftar Korban, dan Upaya Investigasi Tim Gabungan

Dengan demikian, terdapat selisih lebih dari Rp1.000 per kilogram antara harga acuan yang ditetapkan pemerintah dengan harga pembelian yang diterima petani non-mitra di tingkat pabrik. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara mengingat sektor perkebunan kelapa sawit masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat di daerah tersebut.

Kepala Bidang Bina Usaha Dinas Perkebunan Bengkulu Utara, Safarudin, mengimbau seluruh perusahaan kelapa sawit agar mematuhi berbagai ketentuan dan regulasi yang telah ditetapkan pemerintah, baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten. Menurut Safarudin, kepatuhan terhadap aturan yang berlaku, khususnya terkait mekanisme dan penetapan harga pembelian TBS, sangat penting untuk menjaga keseimbangan hubungan antara perusahaan dan petani.

Di sisi lain, Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud bersama Wakil Bupati Musi Rawas memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Ruang Rapat Bina Praja Setda Kabupaten Musi Rawas. Rapat tersebut dihadiri para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait serta perwakilan perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Musi Rawas.

Bupati Ratna Machmud menegaskan bahwa harga TBS kelapa sawit di Kabupaten Musi Rawas harus mengikuti ketetapan yang telah ditetapkan pemerintah daerah (Pemda). Kepastian tersebut disampaikan setelah dilakukan pembahasan bersama sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di wilayah Musi Rawas.

🔖 Baca juga:
Kontroversi Juri Lomba Cerdas Cermat: Antara Integritas dan Keteladanan

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) juga membuka pendaftaran Program Beasiswa SDM Sawit Tahun 2026 dengan kuota penerima beasiswa sebanyak 5 ribu orang, naik dari 4 ribu orang pada tahun sebelumnya. Program tersebut didukung oleh 42 lembaga pendidikan mitra yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) tengah mengeluhkan dampak anjloknya harga tandan buah segar (TBS) dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah biaya produksi yang terus naik, harga jual sawit justru merosot tajam hingga memangkas pendapatan petani.

Penurunan lebih dari Rp 1.000 per kilogram itu diakuinya membuat resah karena terjadi saat biaya panen, transportasi, pupuk, pestisida hingga bahan bakar minyak terus meningkat. Pendapatan petani sekarang sudah tidak mampu menutupi biaya operasional kebun.

Harga yang diterima petani jauh di bawah beban biaya yang harus dikeluarkan. Biaya panen saat ini berkisar Rp 300 hingga Rp 500 per kilogram, sedangkan biaya lansir atau pengangkutan buah dari kebun mencapai Rp 200 hingga Rp 300 per kilogram.

🔖 Baca juga:
Jakarta Bhayangkara Presisi Sejarah Baru di AVC Men’s Champions League 2026

Akibatnya, margin keuntungan petani semakin tipis dan sebagian bahkan mengaku mulai merugi. Petani yang paling terdampak. Harga turun cepat, tapi biaya produksi tidak pernah ikut turun.

Pemerintah perlu segera memberikan kepastian terkait arah kebijakan ekspor sawit agar tidak menimbulkan spekulasi yang berujung pada penurunan harga di tingkat petani. Kami berharap pemerintah cepat memberikan kejelasan.

Jeritan petani sawit di Kalbar ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan dalam menstabilkan harga kelapa sawit. Dengan demikian, petani sawit dapat terus menjalankan usahanya dengan baik dan tidak merugi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *