Internasional

Ketegangan di Strait of Hormuz Memuncak: Iran Tutup Selat, Serang Tanker India, dan Tolak Tuntutan AS

×

Ketegangan di Strait of Hormuz Memuncak: Iran Tutup Selat, Serang Tanker India, dan Tolak Tuntutan AS

Share this article
Ketegangan di Strait of Hormuz Memuncak: Iran Tutup Selat, Serang Tanker India, dan Tolak Tuntutan AS
Ketegangan di Strait of Hormuz Memuncak: Iran Tutup Selat, Serang Tanker India, dan Tolak Tuntutan AS

GemaWarta – 19 April 2026 | Situasi di Selat Hormuz kembali berada di ambang krisis setelah Iran mengumumkan penutupan kembali selat tersebut dan menembak dua kapal tanker berbendera India. Kejadian ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang rapuh antara Washington dan Tehran, serta tekanan dari negara‑negara lain yang mengandalkan jalur laut ini untuk pasokan energi.

Menurut laporan resmi Kementerian Luar Negeri India, duta Besar Iran di New Delhi, Dr. Mohammad Fathali, dipanggil pada sore hari untuk menyampaikan protes India atas penembakan tersebut. Dua kapal tanker, Jag Arnav dan Sanmar Herald, yang masing‑masing membawa jutaan barel minyak Irak, dilaporkan berada di zona laut internasional di utara Oman ketika ditembak oleh kapal perang Iran. Tidak ada kapal Angkatan Laut India yang berada di Selat Hormuz pada saat itu, sehingga penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi motif penembakan.

🔖 Baca juga:
Rakyat Pakistan Soroti Kegagalan Negosiasi AS-Iran, Serukan Dukungan pada Iran di Tengah Tuduhan Serangan Israel

Iran menegaskan bahwa penutupan selat merupakan respons terhadap apa yang disebutnya sebagai pelanggaran oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Komando Angkatan Bersenjata Iran menyatakan bahwa kontrol atas Selat Hormuz telah kembali ke “status sebelumnya” di mana semua kapal harus memperoleh izin militer Iran serta membayar biaya transit. Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa blokade pelabuhan Iran akan terus berlanjut sampai ada kesepakatan mengenai program nuklir Tehran.

Sementara itu, pejabat Iran di luar negeri mengkritik tuntutan Amerika yang disebut “maximalist”. Seorang pejabat tinggi Tehran menilai bahwa persyaratan Washington terlalu keras, sehingga menghambat proses pembicaraan tatap muka yang dijadwalkan. Kritik tersebut menambah ketegangan dalam negosiasi yang melibatkan pihak ketiga, termasuk Pakistan, yang berperan sebagai mediator antara kedua negara.

Di sisi lain, konflik regional yang melibatkan Israel dan Hezbollah di Lebanon juga memberi dampak pada dinamika Selat Hormuz. Pada hari yang sama, Iran menyatakan kembali penegakan pembatasan setelah sebuah gencatan senjata sepuluh hari antara Israel dan Hezbollah diumumkan. Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan bahwa kapal harus menunggu otorisasi Iran sebelum dapat melintas, mencerminkan strategi Iran untuk menggunakan selat sebagai alat tawar menawar politik.

🔖 Baca juga:
AS Kenakan Sanksi pada Kapal Tanker China Rich Starry Usai Langgar Blokade di Selat Hormuz

Reaksi internasional pun beragam. Britania Raya melalui United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan penembakan tersebut dan menegaskan bahwa awak kapal tanker dalam keadaan selamat. Namun, laporan dari Kpler menunjukkan bahwa pergerakan kapal melalui Selat Hormuz kini terbatas pada koridor yang telah disetujui oleh otoritas Iran, menandakan berkurangnya volume perdagangan laut yang biasanya menyalurkan sekitar satu‑lima dunia minyak mentah.

India, yang mengandalkan jalur tersebut untuk impor minyak, menyoroti pentingnya keamanan pelayaran. Menteri Luar Negeri India menekankan bahwa India akan terus menekan Iran agar membuka kembali selat dan memastikan kapal dagang dapat melintas tanpa gangguan. Sementara itu, Amerika Serikat menegaskan kembali komitmennya untuk menegakkan blokade pelabuhan Iran hingga Tehran memenuhi persyaratan nuklir.

Ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya berimplikasi pada harga minyak global, tetapi juga menambah risiko eskalasi militer di wilayah Timur Tengah yang sudah tegang. Pengamat energi memperingatkan bahwa setiap penutupan tambahan dapat memicu lonjakan harga minyak mentah, memperburuk krisis energi yang sudah dirasakan banyak negara konsumen.

🔖 Baca juga:
Menhan RI dan AS Tandatangani Kemitraan Pertahanan Utama di Pentagon: Langkah Besar untuk Stabilitas Indo‑Pasifik

Dengan proses gencatan senjata di Lebanon yang masih rapuh, dan negosiasi antara AS dan Iran yang belum mencapai titik temu, situasi di Selat Hormuz diperkirakan akan tetap tidak stabil dalam beberapa minggu ke depan. Semua pihak tampaknya menunggu langkah konkret dari Iran mengenai pembukaan kembali selat, sambil tetap menyiapkan langkah diplomatik atau militer untuk melindungi kepentingan nasional masing‑masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *