Ekonomi

Impor dan Ekspor di Tengah Krisis Energi Global

×

Impor dan Ekspor di Tengah Krisis Energi Global

Share this article
Impor dan Ekspor di Tengah Krisis Energi Global
Impor dan Ekspor di Tengah Krisis Energi Global

GemaWarta – 05 Juni 2026 | Bea Cukai Tanjung Priok baru-baru ini menerima kunjungan mahasiswa dari dua universitas untuk mempelajari proses bisnis kepabeanan dan cukai di kawasan pelabuhan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat literasi kepabeanan dan cukai di kalangan akademisi. Mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta dan Program Studi Perdagangan Internasional Universitas Widyatama Bandung mengikuti kegiatan ini.

Rangkaian kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi, yaitu pemaparan materi di Aula Sinergi KPU Bea Cukai Tanjung Priok dan kunjungan lapangan ke Terminal Peti Kemas New Priok Container Terminal (NPCT 1). Dalam sesi pemaparan materi, peserta memperoleh penjelasan mengenai tugas dan fungsi Bea Cukai, peran Bea Cukai sebagai revenue collector, community protector, trade facilitator, dan industrial assistance, serta gambaran umum proses kepabeanan dan prosedur ekspor-impor di pelabuhan.

🔖 Baca juga:
Purbaya Tolak Pinjaman IMF dan Bank Dunia, APBN Tetap Kuat dengan Cadangan $25 Miliar

Sementara itu, kendaraan listrik (EV) disebut lebih layak menjadi alternatif untuk mengurangi impor BBM dibandingkan biofuel atau bahan bakar nabati di tengah krisis energi global. Manajer Mobilitas Berkelanjutan, Lingkungan Bersih, dan Bangunan Institute for Essential Services Reform (IESR), Rahmi Puspita Sari, berasumsi bahwa biofuel tidak tepat sebagai alternatif karena memperbesar nilai subsidi energi dan pertimbangan emisi gas rumah kaca (GRK).

Di lain pihak, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso melihat peluang ekspor di tengah pelemahan rupiah di level 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun demikian, dia tetap mengantisipasi dampaknya terhadap barang-barang impor. Budi melihat bahwa ada kenaikan ekspor di tengah pelemahan rupiah dalam beberapa waktu belakangan.

🔖 Baca juga:
Menkeu Purbaya Ungkap Pemerintah Indonesia Masuk Survival Mode: Strategi Fiskal dan Penguatan APBN 2026

Krisis energi yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Iran membuktikan bahwa perekonomian Indonesia sangat bergantung pada impor BBM, sehingga berisiko menjadi risiko fiskal yang berulang. Selama aktivitas transportasi masih bergantung pada BBM, setiap streaming minyak global akan langsung menekan APBN dan berisiko menambah subsidi kebutuhan.

Dalam menghadapi krisis energi ini, peran Bea Cukai sebagai trade facilitator sangat penting untuk memperlancar arus logistik nasional. Selain itu, pengembangan kendaraan listrik (EV) juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi impor BBM dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

🔖 Baca juga:
IHSG Ambles, Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun dan Kebijakan Ekspor Sumber Daya Alam Indonesia

Kesimpulan, impor dan ekspor di Indonesia sangat dipengaruhi oleh krisis energi global. Peran Bea Cukai sebagai trade facilitator sangat penting untuk memperlancar arus logistik nasional. Pengembangan kendaraan listrik (EV) juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi impor BBM dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengembangkan infrastruktur pendukung EV dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengurangi impor BBM dan emisi GRK.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *