GemaWarta – 22 April 2026 | Jakarta, 21 April 2026 – Mantan Wakil Presiden ke‑10 dan ke‑12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), menggelar pertemuan penting di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, bersama sejumlah tokoh yang pernah menjadi pelaku sejarah perdamaian konflik Poso dan Ambon. Agenda ini bertujuan meluruskan narasi yang beredar setelah ceramah JK di Universitas Gadjah Mada (UGM) viral dan dituduh menistakan agama.
Dalam konferensi pers yang diadakan sesudah pertemuan, JK menyampaikan pesan tegas kepada pihak‑pihak yang memicu kegaduhan. “Untuk teman‑teman yang suka bikin gaduh, bikin fitnah ini, Ade Armando CS, dengar ini; Bapak‑bapak ini yang pernah dulu mengalami keadaan pada waktu itu,” ujarnya. JK menegaskan bahwa apa yang ia sampaikan di UGM hanyalah fakta historis mengenai konflik komunal yang terjadi sekitar 25 tahun lalu, bukan doktrin agama.
Berbagai tokoh lintas agama hadir, antara lain Pendeta John Ruhulessin, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pendeta Rinaldi Damanik, yang pernah menjadi delegasi dalam Perundingan Malino I, serta Ustaz Sugiyanto Kaimuddin, wakil delegasi Muslim dalam perundingan yang sama. Semua sepakat bahwa pernyataan JK bersifat sosiologis dan tidak bermaksud menistakan agama manapun.
- Pendeta John Ruhulessin: Menyatakan bahwa JK membahas penyalahgunaan agama sebagai legitimasi kekerasan, bukan menyerang doktrin agama. Ia menegaskan fakta bahwa pada masa konflik, agama diputar‑balik menjadi alat kekerasan.
- Pendeta Rinaldi Damanik: Menyebut analisis JK sebagai realitas pahit konflik Poso dan Ambon, serta mengakui peran Deklarasi Malino I dan II yang diprakarsai JK sebagai titik balik akhir permusuhan.
- Ustaz Sugiyanto Kaimuddin: Menyatakan bahwa apa yang disampaikan JK merupakan fakta lapangan, menyoroti bahwa di satu sisi terdengar teriakan “Darah Yesus” dan di sisi lain “Allahu Akbar”. Ia menuding pihak tertentu, termasuk Ade Armando dan Permadi Arya, sebagai provokator yang memperkeruh situasi.
Setelah mendengar penjelasan para tokoh, JK menambahkan bahwa ia menolak segala tuduhan penistaan agama. “Mudah‑mudahan Allah memaafkan para pemfitnah itu. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” katanya dalam pernyataannya di rumah pribadi pada Sabtu (18/4).
Namun, tidak semua pihak menerima penjelasan tersebut. Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) tetap melaporkan JK ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama, mengklaim bahwa cuplikan ceramahnya dipotong sehingga menimbulkan interpretasi keliru. Aliansi Profesi Advokat Maluku serta unsur masyarakat Maluku pun melaporkan Ade Armando dan Permadi Arya ke kepolisian dengan tuduhan penghasutan dan provokasi melalui video ceramah JK.
Dalam upaya menenangkan situasi, JK meminta aparat kepolisian serta ahli IT menyelidiki asal‑usul video yang beredar, agar dapat mengidentifikasi pihak‑pihak yang memotong dan menyebarkan cuplikan secara sengaja. “Kita minta polisi dan ahli‑ahli IT untuk meneliti ini, siapa yang mula‑mula memasukkan dua kalimat itu,” tegasnya.
Pertemuan ini juga menjadi wadah bagi para tokoh perdamaian untuk mengingat kembali proses perundingan Malino I (1999) dan Malino II (2002) yang berhasil menghentikan kekerasan berdarah di Poso dan Ambon. Mereka menekankan pentingnya dialog lintas agama serta penegakan keadilan bagi pihak‑pihak yang menyebarkan fitnah, demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Kesimpulannya, pertemuan yang dipimpin oleh Jusuf Kalla berhasil menyatukan suara tokoh‑tokoh agama yang menolak fitnah, memperjelas konteks historis ceramah JK, dan menegaskan komitmen bersama untuk melawan narasi yang memecah belah. Meski masih ada laporan hukum terhadap beberapa aktivis, harapan besar tetap mengarah pada upaya rekonsiliasi dan pemulihan kepercayaan publik.











