Otomotif

Mobil Listrik Honda Dihentikan Setelah 3 Tahun, Siapkan Pengganti Murah di Tengah Persaingan EV Global

×

Mobil Listrik Honda Dihentikan Setelah 3 Tahun, Siapkan Pengganti Murah di Tengah Persaingan EV Global

Share this article
Mobil Listrik Honda Dihentikan Setelah 3 Tahun, Siapkan Pengganti Murah di Tengah Persaingan EV Global
Mobil Listrik Honda Dihentikan Setelah 3 Tahun, Siapkan Pengganti Murah di Tengah Persaingan EV Global

GemaWarta – 22 April 2026 | Honda resmi menghentikan produksi mobil listrik andalannya setelah hanya tiga tahun beredar di pasar Indonesia. Keputusan ini menandai akhir siklus singkat sebuah model yang sebelumnya diharapkan menjadi pionir kendaraan listrik terjangkau di tanah air. Meskipun belum lama diluncurkan, model tersebut mengalami penurunan penjualan akibat persaingan ketat, kebijakan pajak yang berubah, serta kurangnya infrastruktur pengisian cepat.

Menurut pernyataan eksekutif Honda di Jakarta, perusahaan akan memfokuskan sumber daya pada pengembangan EV baru yang ditargetkan memiliki harga lebih kompetitif, sekaligus menyesuaikan dengan standar emisi dan efisiensi energi yang semakin ketat. “Kami ingin menawarkan mobil listrik yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dapat dijangkau oleh konsumen kelas menengah,” ujar seorang juru bicara Honda.

🔖 Baca juga:
Solusi BBM naik: Mengapa Harga Denza D9 2025 Bekas Turun dan Apa Peran Cetane Booster?

Sementara itu, pasar mobil listrik Indonesia sedang mengalami dinamika baru setelah diterbitkannya Permendagri No. 11 Tahun 2026 yang menyerahkan wewenang insentif pajak kepada pemerintah daerah. Kebijakan ini menyebabkan variasi signifikan pada biaya kepemilikan kendaraan listrik. Di beberapa provinsi, pembeli harus menanggung bea balik nama sekitar 10‑12 persen dari harga kendaraan serta pajak tahunan antara Rp 3 hingga Rp 5 juta. Beban tambahan ini menjadi faktor penting bagi konsumen dalam menilai total cost of ownership.

Di tengah kondisi tersebut, kompetitor utama Hyundai meluncurkan IONIQ 3, sebuah hatchback listrik kompak yang menargetkan segmen serupa. Hyundai IONIQ 3 hadir dengan dua varian baterai: Standard Range 42,2 kWh dengan jangkauan 344 km (WLTP) dan Long Range 61 kWh yang mampu menempuh hingga 496 km. Kedua varian dilengkapi motor listrik depan, menghasilkan tenaga 147 tk pada versi standar dan 135 tk pada versi long range. Pengisian daya cepat DC memungkinkan baterai terisi dari 10 % ke 80 % dalam 29 menit, menjadikannya pilihan praktis untuk penggunaan harian.

Desain IONIQ 3 mengusung filosofi “Art of Steel” dengan koefisien drag hanya 0,263, sehingga efisiensi aerodinamika tercapai maksimal. Interiornya menonjolkan konsep “Furnished Space” yang memberikan kesan ruang luas dan nyaman, dilengkapi sistem infotainment Pleos Connect berbasis Android Automotive OS berukuran 14,6 inci. Fitur keselamatan ADAS SmartSense, termasuk Highway Driving Assist 2 dan Remote Smart Parking Assist, menambah nilai jual mobil ini di pasar premium yang kini mulai merambah segmen menengah.

🔖 Baca juga:
Korlantas Hapus Syarat KTP Pemilik Lama, Dedi Mulyadi Sebut Ini Anugerah Bagi Warga

Perbandingan harga antara kedua merek menunjukkan bahwa Hyundai menempatkan IONIQ 3 pada kisaran harga yang masih lebih tinggi dibandingkan target Honda untuk EV murah. Namun, keunggulan jangkauan dan jaringan pengisian cepat yang lebih luas dapat menjadi pertimbangan utama bagi pembeli yang mengutamakan praktikalitas. Sementara itu, Honda berencana merilis model baru dengan harga di bawah Rp 250 juta, yang diharapkan dapat memanfaatkan kebijakan insentif daerah yang masih memberikan potongan pajak.

Para analis pasar menilai bahwa keberhasilan mobil listrik di Indonesia kini tidak hanya bergantung pada harga jual, melainkan pada total biaya kepemilikan yang meliputi pajak, bea balik nama, serta biaya operasional harian. Kebijakan pajak yang tidak seragam dapat menciptakan disparitas harga antar daerah, sehingga produsen harus menyesuaikan strategi penjualan secara regional.

Di sisi lain, pemerintah pusat terus mendorong pembangunan infrastruktur SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) untuk mengurangi kekhawatiran range anxiety. Pada 2026, lebih dari 200 SPKLU telah dibuka, termasuk stasiun ultra fast charging pertama di Bali, yang memungkinkan pengisian daya hingga 80 % dalam kurang dari 30 menit.

🔖 Baca juga:
Motor MBG Emmo JVX GT Disorot: Desain Mirip, Harga Melonjak, dan Pengawasan KPK

Kesimpulannya, penghentian produksi mobil listrik Honda membuka peluang bagi produsen lain seperti Hyundai untuk memperkuat posisinya, sementara konsumen harus memperhatikan perubahan kebijakan pajak serta ketersediaan infrastruktur pengisian. Dengan rencana peluncuran EV murah baru, Honda berupaya kembali menggaet segmen yang sensitif terhadap harga, namun tantangan regulasi dan kompetisi teknis tetap menjadi faktor penentu keberhasilan di pasar otomotif listrik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *