GemaWarta – 13 Juli 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melompat ke level 6.000 setelah lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia. Pada perdagangan saham Senin, 13 Juli 2026, IHSG ditutup naik 1,92% ke posisi 6.037,84. Indeks LQ45 juga melompat 2,23% menjadi 602,37. Kenaikan IHSG ini didorong oleh pengumuman S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level ‘BBB’ untuk jangka panjang dan ‘A-2’ untuk jangka pendek.
Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, kenaikan IHSG didorong oleh pengumuman lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia. Liza mengatakan bahwa S&P Dow Jones Indices sempat menyuarakan kekhawatiran yang mirip dengan batasan tenggat waktu dari MSCI (sebelum) November untuk penilaian bukti konkret dan implementasi aturan baru yang konsisten atas transformasi pasar modal.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, membantah bahwa pidato Presiden Prabowo Subianto mempengaruhi pergerakan IHSG. Menurut Jeffrey, keputusan investasi investor didasarkan pada kondisi ekonomi dan ketidakpastian global, bukan pada faktor politik. Jeffrey juga mengatakan bahwa korelasi antara kondisi politik dan keputusan investasi sudah menurun, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, keterkaitan dua aspek tersebut sudah hampir tidak ada.
IHSG kembali melompat ke level 6.000 setelah beberapa waktu sebelumnya mengalami penurunan. Kenaikan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk pengumuman S&P Global Ratings dan kondisi ekonomi global. Namun, perlu diingat bahwa pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain, termasuk kondisi politik dan ketidakpastian global.
Kesimpulan, kenaikan IHSG ke level 6.037 setelah pengumuman S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia menunjukkan bahwa investor masih memiliki harapan terhadap perekonomian Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain, termasuk kondisi politik dan ketidakpastian global. Oleh karena itu, investor perlu tetap waspada dan memantau perkembangan ekonomi dan politik untuk membuat keputusan investasi yang tepat.









