GemaWarta – 13 Juli 2026 | Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang cukup impresif pada penutupan perdagangan hari Senin awal pekan ini, (13/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau Composite Index berhasil parkir di zona hijau dengan penguatan yang cukup signifikan di level 6.037,84 atau terapresiasi sebesar 1,92 persen.
Pergerakan ini pun mencerminkan optimisme investor di tengah dinamika pasar. Laju positif tidak hanya dialami oleh indeks komposit utama. Indeks LQ45, yang berisi 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, menunjukkan kinerja yang lebih kuat dengan kenaikan sebesar 2,23 persen dan ditutup di angka 602,37.
Tidak ketinggalan, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) juga turut menguat sebesar 1,63 persen ke level 207,04. Data perdagangan menunjukkan aktivitas yang sangat ramai. Sepanjang hari, total volume perdagangan mencapai 26,35 miliar lembar saham. Sementara itu, total nilai transaksi yang berhasil dibukukan mencapai angka fantastis yakni Rp 12,15 triliun.
Saham PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) menjadi salah satu emiten yang mencuri perhatian dengan menempati posisi kedua saham paling aktif senilai Rp 820,57 miliar, melampaui nilai transaksi raksasa perbankan seperti BBRI dan BMRI. Namun, penguatan IHSG belum mampu mengangkat kinerja saham RANS yang justru mengalami koreksi tajam. Saham RANS ditutup melemah 10,53% ke level Rp204 per saham.
Founder RANS, Raffi Ahmad, masih menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 7,93 miliar saham atau setara 62,93 persen. Posisi pemegang saham terbesar berikutnya ditempati PT Indonesia Entertainment Grup dengan kepemilikan 911,5 juta saham atau 7,23 persen. Sementara itu, COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria tercatat memiliki 345,25 juta saham atau 2,74 persen.
IHSG ditutup menguat 1,92 persen ke level 6.037,84, didukung oleh tingginya aktivitas pasar dengan total volume 26,35 miliar lembar saham dan nilai transaksi mencapai Rp 12,15 triliun. Emiten RANS (Rans Nusantara Hebat) mencuri perhatian dengan menempati posisi kedua saham paling aktif senilai Rp 820,57 miliar, melampaui nilai transaksi raksasa perbankan seperti BBRI dan BMRI.
Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai prospek stabil tersebut mencerminkan keyakinan pendapatan pemerintah akan terus membaik sepanjang tahun ini. Hal tersebut seiring dengan potensi pemulihan penerimaan ekspor yang didorong oleh kenaikan harga komoditas. Lembaga pemeringkat itu juga memperkirakan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara dan ekspor dari sektor sumber daya alam akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang.
Terutama apabila implementasi kebijakan berjalan konsisten dan lebih dapat diprediksi. “Prospek yang stabil ini juga mencerminkan ekspektasi kami bahwa pemerintah terus memandang batas defisit tahunan sebesar 3% sebagai penopang kebijakan yang penting,” tulis S&P Global Ratings, Senin (13/7).
Lonjakan saham pada akhir perdagangan hari ini terjadi seusai S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit atau sovereign credit rating Indonesia di level ‘BBB’ untuk jangka panjang dan ‘A-2’ untuk jangka pendek, dengan prospek jangka panjang tetap stabil.
Dari sebelas sektor yang ada di BEI, sembilan sektor terpantau bertengger di zona hijau. Sektor yang mencatat kenaikan terbesar yakni bahan baku yang naik 2,96%. Adapun salah satu saham di sektor tersebut yang menguat yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT), tumbuh 8,02%.
Di sisi lain, bursa saham Asia bergerak di zona merah. Indeks Straits Times tergelincir 0,11%, Shanghai Composite terkoreksi 2,06%, dan Nikkei turun 1,92%. Sebaliknya Hang Seng naik 0,16%.
Kesimpulan, IHSG melesat ke level 6.037 seusai S&P pertahankan peringkat kredit RI. Saham RANS menjadi sorotan dengan menempati posisi kedua saham paling aktif senilai Rp 820,57 miliar. Namun, penguatan IHSG belum mampu mengangkat kinerja saham RANS yang justru mengalami koreksi tajam.











