BERITA

Harga BBM Pertamina Melonjak, Konsumsi Masyarakat Terganggu

×

Harga BBM Pertamina Melonjak, Konsumsi Masyarakat Terganggu

Share this article
Harga BBM Pertamina Melonjak, Konsumsi Masyarakat Terganggu
Harga BBM Pertamina Melonjak, Konsumsi Masyarakat Terganggu

GemaWarta – 17 Juli 2026 | Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di beberapa pengecer di Medan mencapai Rp 25.000 per botol, padahal harga resmi Pertalite di SPBU Pertamina ditetapkan sebesar Rp 10.000 per liter. Kenaikan harga ini diduga dipicu oleh sulitnya masyarakat mendapatkan BBM di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menegaskan bahwa harga BBM yang dijual oleh pengecer berada di luar kewenangan Pertamina. Ia menjelaskan bahwa pengecer bukan merupakan lembaga penyalur resmi Pertamina.

🔖 Baca juga:
Cek Bansos PKH dan BPNT Juli 2026: Jadwal Penyaluran dan Cara Cek Penerima

Di lain sisi, konsumsi BBM nonsubsidi seperti Pertamax turun sekitar 18% setelah terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 18 April 2026. Sementara itu, konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar meningkat.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan bahwa konsumsi Pertalite pada Juli meningkat sekitar 9,4%. Porsi Pertalite dalam konsumsi bensin juga naik dari sekitar 75% pada periode Januari-Mei menjadi sekitar 80%.

Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan menilai bahwa kebijakan harga solar Rp 15.000 per liter bagi kapal perikanan berkapasitas 30-200 gross ton (GT) akan memberikan dampak signifikan terhadap biaya operasional melaut. Ia menjelaskan bahwa biaya BBM mencapai 65-70% dari total biaya operasional.

🔖 Baca juga:
Badan Gizi Nasional: Evaluasi Insentif SPPG dan Anggaran Program MBG 2027

Sumatra Utara saja mengalami setidaknya tiga gelombang kelangkaan BBM dengan pemicu berbeda tetapi berujung sama. Anggota Komisi E DPRD Sumut Dameria Pangaribuan mencatat bahwa gelombang pertama pecah pada November 2025, ketika gelombang tinggi di Pelabuhan Belawan menghambat bongkar muat kapal tanker.

Krisis BBM terjadi karena pemangkasan kuota subsidi, lebar jurang harga, hingga penyalahgunaan distribusi BBM ke sektor tambang ilegal. Gangguan distribusi BBM di Sumatra diperburuk oleh masalah internal manajemen vendor serta ketidaksiapan sistem logistik pemerintah dan pihak Pertamina.

Seorang sopir truk bernama Amri meninggal dunia akibat kelelahan saat mengantre solar di SPBU Sumatra Selatan, 29 Juni 2026. Kematian Amri bukan berita duka semata, melainkan alarm paling keras dari sebuah krisis yang hingga kini belum juga menemukan titik terang soal siapa yang bertanggung jawab.

🔖 Baca juga:
Pengemudi Ojol Dapat Tarif Potongan 8 Persen, Adian Napitupulu: Kemenangan Telah Diperoleh

Kesimpulan, krisis BBM di Sumatra disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pemangkasan kuota subsidi, lebar jurang harga, dan penyalahgunaan distribusi BBM. Pemerintah dan Pertamina perlu segera menemukan solusi untuk mengatasi krisis ini dan memastikan pasokan BBM yang stabil dan terjangkau bagi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *