GemaWarta – 17 Juli 2026 | Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyatakan bahwa investasi di perusahaan startup agritech Indonesia, eFishery, merupakan penipuan terencana. Dalam jawaban tertulis di parlemen Malaysia, Anwar menjelaskan bahwa investasi tersebut dilakukan melalui proses evaluasi dan tata kelola yang berlaku, dengan mengacu pada laporan keuangan yang telah diverifikasi oleh auditor bersertifikat internasional.
Selain itu, konsorsium investor, termasuk Retirement Fund Inc (KWAP), juga melakukan uji tuntas (due diligence) secara independen sebelum memutuskan berinvestasi. Namun, belakangan terungkap bahwa manajemen eFishery diduga melakukan manipulasi laporan keuangan sehingga menyesatkan para investor.
Anwar menegaskan bahwa KWAP bukan satu-satunya investor yang menjadi korban. Sejumlah investor institusi dan dana teknologi kelas dunia juga ikut menanamkan modal di startup tersebut, di antaranya Temasek, SoftBank, 42XFund, dan Northstar.
Pada putaran pendanaan Seri D tahun 2023, eFishery berhasil menghimpun pendanaan sebesar US$200 juta. Dari jumlah tersebut, KWAP menginvestasikan US$47,7 juta atau sekitar RM194,35 juta.
Anwar juga menyatakan bahwa konsorsium investor, termasuk KWAP, telah memulai proses hukum untuk menuntut pertanggungjawaban sekaligus mengupayakan pemulihan dana yang telah diinvestasikan. Selain langkah hukum, KWAP juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penilaian, persetujuan, hingga pengawasan investasi tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia serius dalam menangani kasus ini dan berkomitmen untuk mengelola dana pensiun aparatur sipil negara secara transparan, beretika, dan akuntabel.
Sementara itu, dalam kesempatan lain, Anwar Ibrahim juga menekankan pentingnya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Ia menyatakan bahwa generasi muda harus memahami dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kepedulian terhadap sesama dan kemampuan untuk memahami perasaan orang lain.
Anwar juga menyoroti pentingnya pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter dan moral. Ia menekankan bahwa pendidikan harus membentuk individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati yang baik dan kemampuan untuk berempati terhadap orang lain.
Dalam konteks lain, Anwar Ibrahim juga membahas tentang pentingnya mengatasi hambatan dalam proses reformasi. Ia menyatakan bahwa resistensi terhadap perubahan adalah salah satu hambatan terbesar dalam proses reformasi. Namun, dengan komitmen dan kerja keras, perubahan yang positif dapat tercapai.
Terakhir, Anwar Ibrahim menekankan pentingnya menjaga reputasi sekolah dengan cara yang benar, yaitu dengan mengutamakan kepentingan siswa dan mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah dan menangani kasus-kasus bullying. Ia menyatakan bahwa bullying adalah suatu masalah serius yang dapat memiliki dampak yang signifikan pada korban, dan bahwa sekolah harus bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua siswa.











