GemaWarta – 18 Juli 2026 | Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) saat ini menghadapi dua tantangan besar yang berbeda: penurunan populasi di Eropa dan kontroversi di lapangan sepak bola. Populasi Uni Eropa diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2029 sebelum mulai mengalami penurunan secara bertahap dalam beberapa dekade berikutnya. Menurut laporan terbaru dari Joint Research Centre (JRC), lembaga riset resmi Komisi Eropa, jumlah penduduk di 27 negara anggota Uni Eropa yang saat ini mencapai 450,6 juta jiwa diperkirakan meningkat menjadi 453,3 juta jiwa pada 2029. Setelah itu, populasi diproyeksikan terus menurun hingga hanya tersisa 398,8 juta jiwa pada 2100.
Penurunan populasi terjadi di tengah meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Eropa. Kemajuan layanan kesehatan, peningkatan kualitas hidup, dan kondisi sosial yang semakin baik membuat warga Eropa kini hidup lebih lama dibandingkan sebelumnya. Menurut JRC, angka harapan hidup saat lahir mencapai 81,5 tahun pada 2024. Tren tersebut diperkirakan terus berlanjut. Pada 2050, hampir satu dari tiga warga Uni Eropa akan berusia 65 tahun atau lebih, meningkat signifikan dibandingkan kondisi saat ini yang masih sekitar satu dari lima penduduk.
Sementara itu, di lapangan sepak bola, UEFA juga menghadapi kontroversi terkait dengan penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR). UEFA telah mengeluarkan instruksi tegas kepada wasit VAR agar tidak memasukkan akting atau kecurangan ke dalam aturan “kesalahan identifikasi pemain”. Aturan tersebut telah diterapkan dua kali di Piala Dunia 2026, yang pertama saat kartu kuning dipindahkan dari Tim Ream (AS) ke Miguel Almirón (Paraguay) dengan alasan akting, dan yang kedua pada pertandingan perempat final antara Swiss dan Argentina, di mana penyerang Swiss, Breel Embolo, diusir pada menit ke-72 setelah intervensi teknologi VAR.
Kontroversi ini memicu debat tentang perluasan wewenang VAR dan potensi intervensi wasit yang berlebihan. UEFA berpendapat bahwa “kesalahan identifikasi” adalah keputusan digital dan tegas yang tidak memerlukan wasit untuk memeriksa layar, sementara perubahan dari penghitungan pelanggaran menjadi hukuman terhadap pemain karena akting merupakan keputusan “diskresioner dan tidak jelas” yang memerlukan pemeriksaan layar.
Dalam konteks yang lebih luas, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, mengungkapkan kekagumannya atas keindahan alam Sulawesi Utara dan kuatnya toleransi di daerah tersebut. Ia juga terkesima dengan euforia pesta bola Piala Dunia 2026 di Bumi Nyiur Melambai. Namun, di balik keindahan alam dan euforia sepak bola, Uni Eropa masih harus menghadapi tantangan besar akibat penuaan populasi dan kontroversi di lapangan sepak bola.
Kesimpulan dari situasi ini adalah bahwa Uni Sepak Bola Eropa harus mencari solusi untuk mengatasi penurunan populasi dan kontroversi di lapangan sepak bola. Dengan demikian, UEFA dapat memastikan bahwa sepak bola tetap menjadi olahraga yang dinamis dan menarik di Eropa, serta bahwa populasi Eropa dapat terus menikmati manfaat dari olahraga ini.











