Ekonomi

Utang dan Rasio Utang: Mengenal Risiko dan Dampaknya pada Perekonomian

×

Utang dan Rasio Utang: Mengenal Risiko dan Dampaknya pada Perekonomian

Share this article
Utang dan Rasio Utang: Mengenal Risiko dan Dampaknya pada Perekonomian
Utang dan Rasio Utang: Mengenal Risiko dan Dampaknya pada Perekonomian

GemaWarta – 18 Juli 2026 | Di tengah ketidakpastian ekonomi global, utang pemerintah kerap menjadi mesin penggerak pembangunan sekaligus bom waktu jika tidak dikelola dengan hati-hati. Salah satu indikator paling sehat untuk mengukurnya adalah rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang mencerminkan kemampuan suatu negara untuk melunasi kewajibannya.

Ketika angka ini melewati batas aman, alarm lampu kuning bagi stabilitas fiskal pun mulai menyala. Di Indonesia sendiri, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa kondisi utang luar negeri Indonesia tetap terkendali dan berada dalam batas aman, sekalipun secara nominal telah melewati angka Rp 8.000 triliun.

🔖 Baca juga:
Pemerintah Pastikan Patriot Bond Aman dari Pencucian Uang

Ia menekankan bahwa penilaian terhadap utang suatu negara tidak boleh hanya berpatokan pada angka nominal semata, melainkan harus disandingkan dengan skala perekonomian domestik. Purbaya memaparkan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan parameter utama yang digunakan secara global untuk mengukur kesehatan fiskal.

Saat ini, rasio utang Indonesia bertahan di kisaran 40% dari PDB. Angka ini dinilai sangat aman karena berada jauh di bawah ambang batas aman 60% yang ditetapkan dalam dokumen internasional Maastricht Treaty.

🔖 Baca juga:
Rupiah Melemah, Investasi Obligasi Menjadi Pilihan Stabil

Badan Gizi Nasional (BGN) juga memiliki utang kepada pihak ketiga pada tahun anggaran 2025 sebesar Rp 1,6 triliun yang berasal dari berbagai kegiatan. Tunggakan tersebut merupakan kewajiban atas kegiatan yang sebenarnya sudah selesai dilaksanakan, tapi belum sempat dibayarkan.

Di sisi lain, anak muda makin andalkan PayLater untuk beli laptop, tablet, hingga skincare. Bagi sebagian generasi muda, PayLater bukan lagi sekadar fasilitas pembayaran digital, melainkan menjadi cara untuk menjembatani kebutuhan yang harus dipenuhi saat ini dengan pendapatan yang baru diterima pada bulan berikutnya.

🔖 Baca juga:
Rupiah Melemah, Peluang Bagi Pariwisata Indonesia

Penagihan utang yang dilakukan dengan kekerasan juga dapat memicu perselisihan dan tawuran, seperti yang terjadi antara Pemuda Pancasila (PP) dan kelompok bank plecit di Semarang. Polisi menyebut kasus itu dipicu penagihan utang pribadi kelompok bank plecit.

Kesimpulan, utang dan rasio utang merupakan indikator yang sangat penting dalam menilai kesehatan fiskal suatu negara. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan utang yang efektif dan efisien untuk menghindari risiko dan dampak negatif pada perekonomian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *