GemaWarta – 23 April 2026 | Majalengka kembali menjadi sorotan nasional setelah video viral yang memperlihatkan kondisi dapur MBG (Makanan Bergizi Gratis) di sebuah sekolah dasar tersebar luas di media sosial. Rekaman menunjukkan area persiapan makanan yang kotor, peralatan yang berkarat, serta bau tidak sedap yang menandakan kemungkinan kontaminasi. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan publik karena menyangkut kesehatan anak-anak usia sekolah dasar, terutama setelah serangkaian insiden serupa terjadi di daerah lain.
Sementara itu, di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, puluhan murid SDN 7 Rumbia mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu “Ikan Busuk” yang disajikan dalam program MBG. Sebanyak tiga belas anak dirawat di rumah sakit karena gejala mual, muntah, dan diare berat. Otoritas setempat memutuskan menutup sementara dapur MBG di wilayah tersebut untuk investigasi lebih lanjut. Di Madura, laporan lain mengungkapkan siswa yang mengalami gatal-gatal massal setelah mengonsumsi makanan yang diduga berasal dari dapur MBG yang sama. Meskipun tidak ada laporan muntah atau diare, keluhan kulit yang meluas menambah daftar gejala yang menimbulkan kecurigaan terhadap keamanan makanan.
Insiden di Majalengka menyoroti kesenjangan antara harapan program MBG yang seharusnya memberikan makanan bergizi kepada siswa dengan realitas di lapangan yang jauh dari standar kebersihan. Pada hari Senin, tim inspeksi Dinas Pendidikan setempat melakukan pengecekan mendadak dan menemukan beberapa pelanggaran serius, antara lain:
- Penggunaan air keran yang tidak melalui proses filtrasi.
- Peralatan masak berkarat dan tidak layak pakai.
- Kekurangan tenaga kerja yang terlatih dalam prosedur kebersihan makanan.
- Kurangnya dokumentasi suhu penyimpanan makanan.
Temuan ini memicu protes dari orang tua murid yang menuntut penjelasan dan tindakan cepat.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta Kementerian Kesehatan segera mengirimkan tim gabungan untuk melakukan audit menyeluruh. Tim tersebut dipimpin oleh Direktur Jenderal Pengembangan Pendidikan Dasar dan Menengah serta pejabat senior dari Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Dalam pernyataannya, mereka menegaskan komitmen untuk memastikan bahwa setiap program MBG memenuhi standar keamanan pangan yang ketat, serta menekankan pentingnya koordinasi antara dinas pendidikan, kesehatan, dan dinas terkait lainnya.
Langkah-langkah yang diambil meliputi:
- Penutupan sementara semua dapur MBG di Majalengka sampai audit selesai.
- Pengujian laboratorium terhadap sampel makanan dan air yang digunakan di dapur.
- Pelatihan ulang bagi koki dan staf dapur tentang prosedur sanitasi dan penyimpanan makanan.
- Penerapan sistem manajemen mutu berbasis ISO 22000 untuk memastikan keamanan pangan.
Selain itu, kementerian berencana mengeluarkan regulasi baru yang mewajibkan setiap sekolah yang mengelola dapur MBG untuk memiliki sertifikat kebersihan dari BPOM dan laporan bulanan yang dapat diakses publik.
Reaksi masyarakat pun beragam. Sebagian orang tua menilai langkah pemerintah sebagai respons yang tepat, sementara yang lain menuntut transparansi penuh dan sanksi tegas bagi pihak yang lalai. Di media sosial, tagar #ViralDapurMBG dan #AmanUntukAnak menjadi trending dalam hitungan jam, menandakan besarnya kepedulian publik terhadap isu ini.
Para ahli gizi menambahkan bahwa selain kebersihan, kualitas bahan baku juga menjadi faktor penting. Mereka mengingatkan bahwa penggunaan ikan yang tidak segar atau bahan makanan lain yang tidak terkontrol dapat menimbulkan risiko keracunan atau reaksi alergi, sebagaimana terlihat pada kasus gatal-gatal di Madura. Oleh karena itu, penyediaan sumber bahan baku yang terjamin mutunya menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, pemerintah daerah Majalengka mengumumkan rencana anggaran tambahan untuk memperbaiki infrastruktur dapur, termasuk pemasangan sistem filtrasi air, perbaikan ventilasi, serta pengadaan peralatan masak baru yang bersertifikat. Anggaran tersebut diharapkan dapat diimplementasikan pada akhir tahun ini, sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain yang masih menjalankan program MBG.
Secara keseluruhan, kejadian ini menegaskan pentingnya pengawasan menyeluruh terhadap program bantuan makanan di sekolah. Dengan tindakan cepat dari pemerintah pusat dan kerja sama lintas sektoral, diharapkan standar keamanan pangan dapat kembali terjaga, sehingga manfaat gizi yang dijanjikan oleh dapur MBG dapat dinikmati tanpa menimbulkan risiko kesehatan bagi generasi muda.











