GemaWarta – 23 April 2026 | Ruang pasar modal Indonesia kembali menjadi sorotan pada Rabu, 22 April 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan 0,24 persen hingga 7.541,61 poin. Meskipun indeks melemah, arus dana asing menunjukkan pola yang kontras: net buy asing tercatat mencapai Rp473 miliar, menandakan kepercayaan investor luar negeri terhadap peluang nilai tambah di pasar domestik.
Data yang dihimpun oleh RTI mengungkapkan bahwa volume transaksi harian mencapai 49,3 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan 2,9 juta kali. Nilai transaksi menembus angka Rp18 triliun, sementara kapitalisasi pasar berada pada level Rp13.361 triliun. Dari total 821 saham yang diperdagangkan, mayoritas, yakni 440 saham, bergerak di zona hijau, menandakan kenaikan harga, sedangkan 240 saham berada di zona merah dan 141 saham lainnya stagnan.
Di balik pergerakan indeks, aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing tercatat sebesar Rp827,42 miliar. Tekanan jual paling signifikan muncul di pasar reguler dengan nilai Rp1,04 triliun. Sebaliknya, pasar negosiasi justru menyerap net buy sebesar Rp212,58 miliar, menandakan adanya pergeseran strategi di antara pelaku pasar internasional. Saham perbankan menjadi fokus utama aksi jual, dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan net sell terbesar sebesar Rp404,87 miliar meskipun harga sahamnya turun hanya -0,92 persen menjadi Rp3.240. Diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang dibuang Rp142,38 miliar, walaupun sahamnya tetap menguat 1,06 persen ke Rp4.750.
Sementara itu, sejumlah saham justru menjadi incaran utama investor asing. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat net buy terbesar sebesar Rp112,13 miliar, diikuti oleh PT Energi Mega Persada Tbk (EMPS) dengan net buy Rp93,26 miliar, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan net buy Rp77,38 miliar. Ketiga perusahaan ini berhasil menambah likuiditas dan menarik aliran dana asing, yang mencerminkan ekspektasi pertumbuhan laba serta prospek jangka panjang yang kuat.
Fenomena net buy asing sebesar Rp473 miliar ini muncul bersamaan dengan penurunan indeks, menandakan bahwa investor asing tidak sekadar bereaksi pada pergerakan harga semata, melainkan mengandalkan analisis fundamental dan prospek sektor tertentu. Kenaikan permintaan pada saham perbankan seperti BNI serta saham komoditas seperti EMPS dan ANTM memperlihatkan diversifikasi strategi, di mana pelaku pasar internasional menyeimbangkan antara sektor keuangan, energi, dan tambang.
Secara keseluruhan, dinamika pasar pada hari tersebut mencerminkan volatilitas yang masih tinggi, namun juga menegaskan peran penting investor asing dalam memberikan likuiditas dan stabilitas harga. Meskipun IHSG turun, arus masuk net buy asing menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih dianggap menarik bagi modal luar negeri, khususnya dalam sektor perbankan dan komoditas. Ke depan, para analis memperkirakan bahwa pergerakan indeks akan tetap dipengaruhi oleh sentimen global, data ekonomi domestik, serta kebijakan moneter yang dapat memicu perubahan aliran dana.
Kesimpulannya, net buy asing Rp473 miliar pada hari IHSG turun menjadi indikator kuat bahwa pasar saham Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor internasional. Saham BNI, EMPS, dan ANTM menjadi pilihan utama, sementara tekanan jual di sektor perbankan tradisional memberikan peluang bagi saham-saham lain untuk memperoleh dukungan dana asing.











