Ekonomi

USD IDR Menguat di Bawah Tekanan Global: Rupiah Stabil di Rp17.300, Swap USDT Meroket 57%

×

USD IDR Menguat di Bawah Tekanan Global: Rupiah Stabil di Rp17.300, Swap USDT Meroket 57%

Share this article
USD IDR Menguat di Bawah Tekanan Global: Rupiah Stabil di Rp17.300, Swap USDT Meroket 57%
USD IDR Menguat di Bawah Tekanan Global: Rupiah Stabil di Rp17.300, Swap USDT Meroket 57%

GemaWarta – 24 April 2026 | Pasar valuta asing terus memperlihatkan dinamika menegangkan pada Jumat, 24 April 2026. Nilai tukar USD IDR berpegangan pada level antara Rp17.280 hingga Rp17.340, dengan kurs tengah yang ditetapkan Bank Indonesia pada Rp17.308. Meskipun dolar AS tetap kuat pada indeks 98,65, kebijakan moneter Bank Indonesia yang semakin hawkish berhasil menahan pelemahan berlebih pada rupiah.

Data spot menunjukkan pergerakan kurs berada dalam rentang Rp17.292‑Rp17.308. Sementara itu, bank-bank komersial menawarkan variasi nilai tukar yang mencerminkan kondisi likuiditas masing‑masing. Berikut rangkuman kurs beli dan jual pada beberapa bank utama:

🔖 Baca juga:
IHSG Naik 2,35% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp13,635 Triliun—Momentum Positif di Bursa Jakarta
Bank Kurs Beli Kurs Jual
Bank Indonesia (Kurs Tengah) Rp17.308
BCA (e‑rate) Rp17.250 Rp17.330
Mandiri (TT Counter) Rp16.950‑Rp17.056 Rp17.228‑Rp17.250

Selain pergerakan di pasar spot, tekanan eksternal semakin terasa. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta lonjakan harga minyak dunia, menambah beban pada neraca perdagangan Indonesia yang merupakan importir neto minyak. Kondisi tersebut menurunkan kepercayaan terhadap rupiah dan memicu pergeseran strategi lindung nilai di kalangan investor.

Platform perdagangan aset digital Bittime mencatat lonjakan transaksi swap USDT/IDR sebesar 57 % dalam tiga hari terakhir. Kenaikan ini sejalan dengan penurunan nilai tukar rupiah yang mencapai level terendah Rp17.274 pada 20 April 2026. USDT dipandang sebagai aset stabil karena keterkaitannya 1:1 dengan dolar AS, sehingga menjadi alternatif bagi pelaku pasar yang ingin menghindari volatilitas rupiah.

🔖 Baca juga:
Ekspor CPO Melesat, Indonesia Perkuat Kedudukan Sebagai Raja Sawit Dunia
  • Geopolitik: Ketegangan AS‑Iran memperburuk sentimen risiko.
  • Harga Minyak: Kenaikan harga minyak menambah beban impor dan menekan neraca perdagangan.
  • Kebijakan BI: Peningkatan suku bunga dan batas pembelian valas 50.000 dolar per pelaku per bulan.
  • Indeks Dolar: Stabil pada 98,65, menahan penguatan mata uang negara berkembang.

Sejak krisis moneter 1997‑1998, rupiah telah mengalami siklus depresiasi dan pemulihan. Pada puncak krisis, nilai tukar mencapai sekitar Rp17.000 per dolar, kemudian berangsur naik hingga Rp8.000 pada akhir 1998. Periode pemulihan (1999‑2007) ditandai oleh stabilitas politik pasca‑reformasi dan intervensi BI yang efektif. Krisis keuangan global 2008 kembali menekan rupiah ke level Rp12.000, namun dampaknya lebih terkendali berkat cadangan devisa yang lebih kuat.

Melihat tren terkini, analis memproyeksikan USD IDR akan berfluktuasi dalam kisaran Rp17.280‑Rp17.340 hingga penutupan pasar. Faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan meliputi kebijakan moneter BI, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta sentimen global terhadap dolar AS. Investor disarankan untuk memantau indikator makroekonomi secara berkala dan mempertimbangkan diversifikasi aset, termasuk kripto stabil seperti USDT, sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko.

🔖 Baca juga:
Jadwal dan Besaran Gaji ke-13 ASN 2026: Semua yang Perlu Anda Ketahui

Dengan latar belakang historis dan dinamika pasar saat ini, rupiah menunjukkan kemampuan bertahan di tengah tekanan eksternal. Namun, volatilitas tetap tinggi, sehingga kehati‑hatian dalam pengambilan keputusan investasi menjadi sangat penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *