GemaWarta – 06 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, kurs jual dolar di beberapa bank telah berada di atas level Rp 18.000, mencerminkan pelemahan mata uang Garuda di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Berdasarkan data kurs perbankan, kurs e-Rate Bank Central Asia (BCA) menetapkan harga beli dolar AS sebesar 18.020 dan harga jual Rp 18.040. Sementara itu, kurs Special Rate Bank Negara Indonesia (BNI) berada di level beli Rp 18.018 dan jual Rp 18.038.
Di sisi lain, Bank Mandiri mencatat kurs Special Rate dengan harga beli Rp 18.050 dan harga jual Rp 18.080. Adapun e-Rate Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang diperbarui pada 4 Juni 2026 menunjukkan kurs beli Rp 17.948 dan kurs jual Rp 18.150, menjadi salah satu level jual tertinggi di antara bank-bank besar tersebut.
Pelemahan rupiah yang terus terjadi belakangan ini mendorong sebagian pelaku usaha dalam negeri untuk mengatur ulang strategi bisnis mereka. Hal itu juga berlaku bagi sejumlah emiten ritel modern.
Nilai tukar rupiah menguat tipis pada penutupan perdagangan sore ini, Jumat (5/6/2026). Mengutip Bloomberg, kurs rupiah ditutup menguat 13 poin atau 0,07 persen ke Rp18.036 per dolar AS sore ini.
Penguatan rupiah dipengaruhi sentimen global terkait dorongan gencatan senjata Israel-Lebanon oleh Presiden AS Donald Trump serta data ekonomi Indonesia yang tumbuh solid menurut OECD.
Meski menguat tipis di akhir pekan ini, analis memperkirakan rupiah berpotensi melemah kembali pekan depan dengan kisaran perdagangan di antara Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS.
Sejak 1950, nilai tukar rupiah terhadap dolar terus berubah dipengaruhi kondisi politik, ekonomi global, dan kebijakan pemerintah dari era Soekarno hingga Prabowo. Rupiah pernah mencapai titik terendah saat krisis moneter 1998 di era Soeharto dan kembali melemah tajam pada masa pandemi COVID-19 di pemerintahan Joko Widodo.
Pada 2026 di bawah kepemimpinan Prabowo, nilai tukar rupiah menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah yaitu sekitar Rp18.038 per dolar Amerika Serikat.
Kesimpulan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS terus terjadi dan berpotensi memengaruhi harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga nilai tukar di perbankan. Pelaku usaha dalam negeri perlu mengatur ulang strategi bisnis mereka untuk menghadapi pelemahan rupiah ini.











