Internasional

Duka Nasional: 2 Tentara Prancis Gugur di Lebanon, Macron Tuding Hizbullah

×

Duka Nasional: 2 Tentara Prancis Gugur di Lebanon, Macron Tuding Hizbullah

Share this article
Duka Nasional: 2 Tentara Prancis Gugur di Lebanon, Macron Tuding Hizbullah
Duka Nasional: 2 Tentara Prancis Gugur di Lebanon, Macron Tuding Hizbullah

GemaWarta – 25 April 2026 | Pemerintah Prancis pada 24 April 2026 menggelar upacara penghormatan nasional untuk mengenang dua prajurit perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) yang tewas dalam operasi pembersihan ranjau di selatan Lebanon. Upacara tersebut dipimpin Menteri Pertahanan Catherine Vautrin, yang menyampaikan rasa duka mendalam serta menegaskan komitmen Prancis terhadap misi perdamaian di wilayah konflik.

Para prajurit yang gugur adalah Sersan Staf Florian Montorio dan Kopral Kepala Anicet Girardin. Kedua prajurit itu berada dalam misi kemanusiaan di bawah bendera UNIFIL ketika mereka terjebak dalam baku tembak jarak dekat saat membersihkan ranjau. Menurut laporan resmi, serangan tersebut terjadi ketika unit Prancis sedang berpatroli di sekitar desa-desa perbatasan, sebuah daerah yang sejak lama menjadi zona sengketa antara milisi Hizbullah dan pasukan Israel.

🔖 Baca juga:
China Gencarkan Upaya Banjir, Ekonomi, dan Pengaruh Global: Dari Bencana Alam hingga Industri Kapal

Presiden Prancis Emmanuel Macron secara tegas menuduh Hizbullah sebagai dalang di balik serangan mematikan itu. Dalam konferensi pers yang diadakan beberapa jam setelah upacara, Macron menegaskan bahwa kelompok militan tersebut telah melanggar hukum humaniter internasional dengan menargetkan personel penjaga perdamaian. “Kami menuntut pertanggungjawaban yang jelas dan menegaskan kembali dukungan kami bagi keselamatan pasukan UNIFIL,” ujar Macron.

Hizbullah membantah semua tuduhan tersebut. Juru bicara kelompok mengklaim tidak ada keterlibatan mereka dalam insiden, menuding bahwa serangan mungkin berasal dari pihak lain yang ingin memperkeruh situasi. Namun pernyataan ini belum didukung oleh bukti yang dapat diverifikasi secara publik.

UNIFIL sendiri menyatakan kesedihan mendalam atas kehilangan dua anggota pasukannya. Dalam pernyataan resmi, mereka menekankan bahwa serangan terhadap personel perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa dan menuntut semua pihak untuk menghormati zona aman serta melindungi pekerja kemanusiaan.

🔖 Baca juga:
Prabowo dan PM Australia Sepakati Ekspor Urea 250 Ribu Ton, Perkuat Ketahanan Pangan Regional

Upacara penghormatan yang berlangsung di Istana Elysee menampilkan lilin putih, bendera Prancis, serta simbol UNIFIL. Selain Vautrin, sejumlah pejabat militer Prancis, perwakilan Kedutaan Besar Prancis di Beirut, serta perwakilan keluarga korban turut hadir. Vautrin mengungkapkan, “Kita kehilangan dua pahlawan yang berkorban demi keselamatan warga sipil. Mereka akan selalu dikenang dalam sejarah perjuangan perdamaian kami.”

  • Florian Montorio – Sersan Staf, unit infanteri, usia 31 tahun.
  • Anicet Girardin – Kopral Kepala, spesialis deteksi ranjau, usia 28 tahun.

Insiden ini menambah ketegangan yang sudah lama berlangsung di wilayah Lebanon selatan, khususnya setelah serangkaian serangan antara Israel dan Hizbullah pada awal tahun 2026. Konflik yang melibatkan militer Israel, milisi Hizbullah, serta pasukan penjaga perdamaian PBB menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi lebih luas.

Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan pihak Lebanon, PBB, dan negara-negara sahabat lainnya dalam menyelidiki peristiwa tersebut. Mereka menambahkan bahwa proses repatriasi jenazah akan dipercepat dan diberikan penghormatan militer penuh di tanah air.

🔖 Baca juga:
Berkah Bebas: Ben Roberts-Smith Dilepas Bersyarat, Kontroversi ANZAC Day Meningkat

Para analis politik menilai bahwa tuduhan Macron terhadap Hizbullah dapat memicu respons diplomatik yang signifikan. Beberapa negara Eropa telah mengeluarkan pernyataan serupa, menyerukan penegakan hukum internasional dan perlindungan bagi pasukan perdamaian. Sementara itu, pihak Lebanon menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghormati kesepakatan gencatan senjata yang telah ada.

Kasus dua tentara Prancis gugur ini menjadi pengingat keras akan risiko tinggi yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di zona konflik. Dengan meningkatnya ketegangan di Lebanon, komunitas internasional diharapkan dapat memperkuat mekanisme perlindungan serta mempercepat upaya diplomatik untuk mencegah tragedi serupa di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *