Ekonomi

Rupiah Merosot ke Level Terlemah, Ancaman Tembus Rp 17.500 per Dolar AS

×

Rupiah Merosot ke Level Terlemah, Ancaman Tembus Rp 17.500 per Dolar AS

Share this article
Rupiah Merosot ke Level Terlemah, Ancaman Tembus Rp 17.500 per Dolar AS
Rupiah Merosot ke Level Terlemah, Ancaman Tembus Rp 17.500 per Dolar AS

GemaWarta – 25 April 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menekan batas terendah dalam beberapa bulan terakhir. Pada perdagangan Jumat, 24 April 2026, kurs jual dolar di bank-bank utama nasional berada di kisaran Rp 17.295 hingga Rp 17.302, menandakan tekanan yang masih cukup kuat. Pada pukul 10.40 WIB, kurs e-Rate mencatat nilai beli Rp 17.280 dan jual Rp 17.300 di BCA, sementara BRI menawarkan beli Rp 17.118 dan jual Rp 17.280. Bank Mandiri mencatat beli Rp 17.265 dan jual Rp 17.295, dan BNI menempatkan beli Rp 17.272 serta jual Rp 17.302.

Penurunan ini tidak lepas dari dinamika global yang memicu aliran dana keluar dari pasar negara berkembang. Konflik di Teluk Persia, ketegangan geopolitik, serta kebijakan moneter utama dunia yang cenderung menguatkan dolar AS menjadi faktor eksternal utama. Di dalam negeri, kerentanan struktural seperti defisit neraca berjalan yang masih tinggi, serta inflasi yang berada di atas target Bank Indonesia (BI), menambah beban pada nilai tukar.

🔖 Baca juga:
Beda Arah Pergerakan Harga Emas Antam dan Emas Dunia: Penyebab Utama yang Mengguncang Pasar

Sutopo Widodo, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, menilai bahwa kombinasi faktor global dan domestik memperparah tekanan pada rupiah. Menurutnya, aliran modal spekulatif yang mengincar aset safe‑haven memperburuk situasi, sementara kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat meningkatkan selisih suku bunga (interest rate differential) yang memicu pergeseran dana ke dolar.

Sejarah menunjukkan bahwa rupiah pernah mengalami penurunan tajam pada krisis moneter 1997‑1998, ketika nilai tukar sempat mencapai kisaran Rp 17.000 per dolar. Pada pertengahan 1998, nilai tukar bahkan menyentuh sekitar Rp 16.800. Penyebab utama pada masa itu adalah krisis keuangan Asia, tingginya utang luar negeri swasta, serta transisi ke sistem nilai tukar mengambang bebas. Setelah krisis mereda, rupiah perlahan menguat kembali ke sekitar Rp 8.000 pada akhir 1998, memulai periode pemulihan yang berlangsung hingga 2007.

Krisis global 2008 kembali menekan rupiah hingga menyentuh sekitar Rp 12.000 per dolar. Namun, dibandingkan dengan 1998, dampaknya lebih terkendali karena cadangan devisa Indonesia yang lebih kuat dan reformasi struktural di sektor perbankan.

🔖 Baca juga:
BCA Umumkan Dividen Interim Tiga Kali Setahun Mulai Kuartal II 2026, Payout Ratio Naik Jadi 72%

Dalam upaya menahan pelemahan, Bank Indonesia baru-baru ini mengumumkan perubahan kebijakan pembatasan pembelian valas. Mulai April mendatang, batas maksimum pembelian valas oleh pelaku akan diturunkan menjadi 50.000 dolar AS per bulan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi volatilitas pasar valuta asing serta menahan spekulasi berlebih.

Data pasar terbaru juga menunjukkan bahwa rupiah sempat menembus level psikologis Rp 17.300 pada Kamis, 23 April 2026. Meskipun kemudian kembali sedikit menguat ke level Rp 17.282, tekanan masih terasa kuat. Analisis teknikal menunjukkan bahwa jika tekanan terus berlanjut, level kritis selanjutnya berada di Rp 17.500 per dolar. Pada level tersebut, potensi gangguan pada arus modal masuk dapat meningkat, mengingat banyak pelaku pasar memperlakukan angka tersebut sebagai ambang batas penting.

Bank-bank besar telah menyesuaikan penawaran kurs mereka sesuai dengan kondisi pasar. Kebijakan harga yang relatif seragam menunjukkan bahwa pasar belum menemukan titik keseimbangan. Sementara itu, pelaku bisnis impor dan eksportir mengkhawatirkan kenaikan biaya impor yang dapat menambah beban inflasi. Konsumen juga merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang impor, terutama kebutuhan pokok yang diproduksi secara luar negeri.

🔖 Baca juga:
Kurs USD Melemah, Rupiah Tertekan: Dampak Konflik Iran‑AS dan Kebijakan Moneter Indonesia

Para analis menyarankan agar pemerintah memperkuat cadangan devisa dan meningkatkan daya saing ekspor non‑migas untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Selain itu, langkah-langkah struktural untuk memperbaiki iklim investasi, seperti penyederhanaan regulasi dan peningkatan kepastian hukum, dapat membantu menstabilkan nilai tukar dalam jangka menengah.

Secara keseluruhan, situasi rupiah dolar saat ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal yang kuat dan tantangan domestik yang masih perlu diatasi. Kebijakan moneter yang tepat, penguatan cadangan devisa, serta reformasi struktural menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya penurunan lebih lanjut hingga menembus level Rp 17.500 per dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *