GemaWarta – 06 Agustus 2026 | Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 5,29 persen, lebih tinggi dari ekspektasi pelaku pasar yang hanya 5,1 persen. Hal ini menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 94 poin atau 0,52 persen menjadi Rp17.933 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang lebih tinggi dari ekspektasi. “Rupiah pada perdagangan hari ini menguat lebih dipengaruhi oleh faktor domestik terkait data pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang lebih tinggi dari ekspektasi pelaku pasar,” ucapnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen (year on year/yoy) pada kuartal II 2026, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) ADHK mencapai Rp3.576,2 triliun, meningkat dari Rp3.396,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun ekonomi Indonesia berdasarkan besaran PDB pada kuartal II 2026 atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp6.552,1 triliun. Pelaku pasar sebelumnya berekspektasi pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5,1 persen.
Pelemahan nilai tukar rupiah sebelumnya tidak selalu berdampak negatif bagi perekonomian. Sejumlah sektor berbasis ekspor justru berpotensi memperoleh keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih murah dan lebih kompetitif di pasar internasional.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, dalam riset Indonesia Economic Outlook Q3-2026, menyebutkan beberapa sektor yang paling berpotensi menikmati manfaat depresiasi rupiah. Menurutnya, pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing harga komoditas ekspor Indonesia sehingga berpotensi mendorong permintaan luar negeri dan meningkatkan penerimaan devisa.
Plt Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memastikan kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei dan Juni 2026, telah membuahkan hasil positif. Hal ini tercermin dari sejumlah hal mulai dari masuknya aliran modal asing, terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah, dan terkendalinya inflasi di tengah gejolak ekonomi global.
Investasi asing di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat mencapai sekitar US$9 miliar di sepanjang kuartal II-2026, sehingga turut memperkuat posisi cadangan devisa nasional. Inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) juga tercatat turun dari sebelumnya di atas 5 persen menjadi sekitar 2,5 persen.
Inflasi nasional pada Juli 2026 secara keseluruhan tercatat sebesar 2,88 persen, atau masih berada dalam kisaran yang dinilai kondusif bagi stabilitas ekonomi. Artinya, aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa memicu tekanan inflasi yang berlebihan.
Kesimpulan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yang lebih tinggi dari ekspektasi menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat. Pelemahan nilai tukar rupiah sebelumnya tidak selalu berdampak negatif bagi perekonomian, karena sejumlah sektor berbasis ekspor berpotensi memperoleh keuntungan. Kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan juga telah membuahkan hasil positif, dengan masuknya aliran modal asing dan terkendalinya inflasi.











