GemaWarta – 08 Agustus 2026 | Gianni Infantino, Presiden FIFA, tengah menghadapi badai kontroversi setelah tuduhan muncul bahwa UEFA, tempat ia bekerja sebelumnya, melakukan pembayaran rahasia kepada seorang wanita yang diduga menjadi kekasihnya. Tuduhan ini muncul di tengah ketegangan yang sudah ada antara Infantino dan UEFA, terkait rencana kontroversial untuk menjual saham komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Menurut laporan dari The Telegraph, wanita tersebut, yang merupakan karyawan UEFA pada saat itu, menerima paket pemisahan senilai enam angka setelah hubungan dengan Infantino berakhir. Selain itu, UEFA juga membayar biaya pendidikan MBA untuk wanita tersebut setelah ia meninggalkan organisasi. Infantino, yang menikah dan memiliki empat anak, diduga telah mempromosikan wanita tersebut ke posisi manajemen selama hubungan mereka berlangsung.
Infantino dengan tegas membantah tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai ‘fitnah’. Ia menyatakan bahwa tidak ada bukti untuk mendukung klaim tersebut dan bahwa ia tidak pernah melakukan kesalahan selama waktu di UEFA. Sementara itu, UEFA mengakui bahwa pembayaran telah dilakukan, tetapi menyatakan bahwa hal itu sesuai dengan regulasi yang berlaku pada saat itu.
Kontroversi ini menambah tekanan pada posisi Infantino sebagai Presiden FIFA, yang sudah menghadapi kritik karena rencana kontroversial untuk memperkenalkan investasi swasta ke dalam kompetisi FIFA. Banyak yang mempertanyakan apakah ia masih layak memimpin organisasi sepak bola dunia.
Dalam beberapa hari terakhir, Infantino telah menghadapi oposisi kuat dari berbagai kalangan sepak bola, termasuk UEFA, yang mengancam untuk melakukan boikot terhadap kompetisi FIFA jika rencana investasi swasta tidak dibatalkan. Infantino akhirnya memutuskan untuk menarik rencana tersebut, tetapi kerusakan pada reputasinya sudah terjadi.
Kesimpulan dari seluruh kontroversi ini masih belum terlihat jelas. Namun, yang pasti adalah bahwa Gianni Infantino akan menghadapi masa-masa sulit di depan untuk memulihkan kepercayaan dan kredibilitasnya sebagai pemimpin sepak bola dunia.









