GemaWarta – 16 Agustus 2026 | Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi, telah menyebabkan belasan orang meninggal dunia dan puluhan bangunan rusak. Badan Geologi Kementerian ESDM mendeteksi indikasi likuifaksi di wilayah Waekokak usai gempa tersebut.
Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, indikasi likuifaksi berupa adanya mata air yang keluar beberapa saat usai gempa terjadi. Ia menegaskan bahwa dampaknya diperkirakan tidak sebesar likuifaksi yang terjadi di Palu beberapa tahun lalu.
Badan Geologi telah menurunkan tim untuk memastikan kondisi tersebut di lapangan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan waspada terhadap gempa susulan serta mengikuti arahan petugas.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan 11 orang luka ringan. Namun, posko Palang Merah Indonesia (PMI) Manggarai Timur mencatat 10 orang meninggal dan dua korban patah tulang.
Gempa bumi ini juga menyebabkan kerusakan material yang signifikan, terutama di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo. BNPB mencatat sedikitnya 54 unit rumah rusak berat, 9 unit rusak sedang, dan 11 unit rusak ringan.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan tetap tenang hingga hasil pemeriksaan lapangan terkonfirmasi. Ia juga menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan mandiri terhadap bangunan setelah terjadi gempa bumi.
Untuk saat ini, masyarakat diharapkan untuk tetap waspada dan mengikuti informasi lebih lanjut dari pemerintah dan Badan Geologi. Dengan demikian, diharapkan dapat mengurangi dampak bencana dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.









