GemaWarta – 28 April 2026 | Pada malam Senin, 27 April 2026, Stasiun Bekasi Timur menjadi saksi kecelakaan dahsyat yang melibatkan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan kereta komuter KRL. Benturan terjadi di emplasemen KM 28+920 sekitar pukul 20.52 WIB, menimbulkan kerusakan parah pada gerbong wanita KRL serta menimbulkan luka pada puluhan penumpang.
Sejak detik pertama, petugas evakuasi bergerak cepat. Tim Basarnas, TNI, Polri, serta relawan PMI dibantu oleh staf PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan peralatan khusus. Karena kerusakan logam yang menempel erat pada tubuh korban, petugas harus menggunakan gergaji besi dan gerinda listrik untuk memotong rangka kereta tanpa menambah cedera. Selama proses, mereka juga menyiapkan tabung oksigen dan tandu berlapis kain untuk menstabilkan kondisi korban yang lemas.
Sebagian penumpang yang masih sadar dipindahkan ke kursi roda dan tempat tidur portabel ambulans yang sudah diposisikan di lantai dua stasiun. Di luar stasiun, deretan ambulans menunggu dengan lampu berkedip, siap mengantar korban ke rumah sakit terdekat. Keluarga korban yang panik menunggu di area lantai dua, beberapa di antaranya menangis histeris sambil memanggil nama orang terkasih.
Menurut pernyataan resmi Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, listrik aliran atas (LAA) pada lintas Cibitung–Bekasi Timur dan emplasemen Stasiun Bekasi Timur telah dinonaktifkan sementara demi keamanan proses evakuasi. Penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan, namun dipastikan bahwa tabrakan menimpa KRL yang sedang melaju menuju arah Cikarang.
Hingga dini hari, tim SAR berhasil mengevakuasi lebih dari tujuh korban yang masih hidup. Salah satunya adalah seorang petugas KAI yang mengenakan seragam biru dongker, yang ditemukan dalam kondisi sadar namun lemas di dalam gerbong. Petugas medis segera memberikan oksigen dan cairan infus di lokasi sebelum memindahkannya ke ambulans.
- Alat yang dipakai: gergaji besi, gerinda listrik, tabung oksigen, tandu medis, kursi roda.
- Jumlah korban: 7 meninggal dunia, 81 luka-luka dirawat di rumah sakit.
- Waktu evakuasi: proses intensif berlangsung hingga pukul 05.00 WIB keesokan harinya.
Proses evakuasi tidak hanya menuntut keterampilan teknis, tetapi juga koordinasi antarlembaga. Basarnas mengarahkan penggunaan peralatan ekstrikasi, sementara TNI‑Polri menjaga keamanan area agar tidak terjadi kerumunan yang berpotensi menghambat operasi penyelamatan. Petugas pemadam kebakaran membantu memotong material logam yang menempel pada tubuh korban, memastikan tidak ada bahaya kebakaran akibat percikan listrik.
Di luar stasiun, masyarakat setempat memberikan bantuan moral dengan menyiapkan air minum, makanan ringan, dan selimut untuk keluarga yang menunggu. Suasana menjadi campuran antara keprihatinan mendalam dan rasa syukur atas upaya petugas yang tak kenal lelah.
“Kami berupaya semaksimal mungkin agar operasional perjalanan kereta api dapat segera kembali normal,” ujar Franoto dalam konferensi pers singkat. Ia menambahkan bahwa investigasi lebih lanjut akan dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab utama kecelakaan serta langkah-langkah pencegahan di masa depan.
Ke depan, PT KAI berjanji akan meningkatkan standar keselamatan, termasuk pemeriksaan rutin pada rel dan sinyal, serta pelatihan intensif bagi seluruh personel operasional. Sementara itu, proses pembersihan rel dan perbaikan infrastruktur diperkirakan memakan waktu beberapa hari sebelum layanan kereta api kembali beroperasi penuh.
Evakuasi kereta Bekasi Timur menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan dan kerja sama lintas sektor dalam menghadapi situasi darurat. Dengan penggunaan gergaji, gerinda, oksigen, dan tandu secara terkoordinasi, petugas berhasil menyelamatkan nyawa banyak korban meski berada dalam kondisi yang sangat kritis.











