GemaWarta – 27 April 2026 | Marseille kembali berada di persimpangan krusial Liga Prancis setelah menahan imbang 1-1 melawan rival tradisionalnya, Nice, dalam Derby Mediterania yang berlangsung pekan ini. Gol tunggal Elye Wahi pada menit-menit akhir laga menjadi sorotan utama, namun kegagalan mencuri tiga poin membuat harapan klub untuk kembali menembus fase grup Champions League semakin memudar.
Skor 1-1 tercipta berkat gol penyeimbang Wahi yang menandai debutnya sebagai pencetak gol pertama musim ini. Meskipun aksi tersebut mengembalikan semangat pendukung, statistik menyerang Marseille tetap berada di bawah standar, dengan peluang tembakan ke gawang lawan masih terbilang minim. Dalam beberapa pertandingan terakhir, tim asuhan pelatih Habib Beye tampak kesulitan menyalurkan kreativitas di lini serang, yang berdampak pada posisi klasemen yang kini berada di zona tengah.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap peluang Champions League semakin menguat setelah tim rival seperti Lyon dan Monaco berhasil memperkuat skuad mereka. Sebuah laporan internal klub mengindikasikan bahwa jika Marseille tidak mampu mengumpulkan setidaknya empat poin dari lima laga tersisa, tiket ke kompetisi Eropa paling bergengsi itu kemungkinan besar akan melayang.
Suasana di Stade Vélodrome tidak kalah dramatis. Penonton Marseille mengekspresikan kekecewaannya melalui sorakan dan teriakan yang terdengar nyaring setelah gol penyeimbang Nice. Beberapa suporter bahkan menyalakan bendera hitam sebagai simbol kekecewaan, menandakan bahwa tekanan terhadap manajemen klub semakin meningkat.
Selain permasalahan performa di lapangan, keputusan taktis pelatih Habib Beye juga menjadi sorotan publik. Dalam konferensi pers pasca laga, Beye menjelaskan alasan penyingkiran Ethan Nwaneri, peminjam asal Arsenal yang sebelumnya dianggap sebagai talenta muda menjanjikan. “Dia pemain berkualitas, namun dalam konteks tim kami saat ini, saya harus membuat pilihan yang paling menguntungkan untuk hasil jangka pendek,” ujar Beye. Keputusan ini menimbulkan perdebatan di kalangan analis sepakbola, mengingat Nwaneri memiliki potensi besar untuk menambah variasi serangan.
Penggemar dan pengamat sepakbola menilai bahwa keputusan tersebut mencerminkan keputusasaan Marseille dalam mencari solusi cepat. Sementara itu, manajemen klub masih berusaha mengamankan transfer pemain tambahan di jendela transfer musim panas yang akan datang, dengan target utama memperkuat lini tengah dan serangan.
Dalam preview pertandingan berikutnya, banyak pihak menekankan pentingnya konsistensi taktis dan mental pemain. Jika Marseille ingin tetap bersaing dalam perebutan tiket Champions League, mereka harus mengoptimalkan potensi pemain kunci seperti Dimitri Payet, Boubacar Kamara, dan tentu saja Elye Wahi yang baru saja menorehkan gol krusial.
Kesimpulannya, Derby Nice menjadi cerminan tantangan yang dihadapi Marseille: kebutuhan mendesak untuk memperbaiki performa, menenangkan suporter yang marah, serta membuat keputusan strategis yang tepat di bawah tekanan. Hanya waktu yang akan menentukan apakah Marseille mampu bangkit kembali atau harus menerima kegagalan di panggung Eropa.











