GemaWarta – 18 April 2026 | Roma menampilkan sisi paling manusiawi pada Jumat, 18 April 2026, ketika pelatih kepala Gian Piero Gasperini tak mampu menahan air mata di ruang pers sebelum pertandingan krusial melawan mantan klubnya, Atalanta. Tekanan dari hubungan yang memanas dengan Claudio Ranieri, penasihat senior klub, memuncak menjadi kegugupan yang tak terduga. Gasperini, yang berusia 68 tahun, memulai konferensi dengan menanggapi komentar Ranieri yang menyebutnya sebagai pilihan keempat untuk posisi pelatih Roma pada musim panas lalu. Pernyataan itu, yang dianggap merendahkan, memicu reaksi emosional yang belum pernah terlihat pada pelatih berpengalaman itu.
“Tidak pernah ada nada yang berbeda antara saya dan Ranieri,” ujar Gasperini dengan suara bergetar. “Saya tidak mengharapkan hal ini dan selama bertahun‑tahun saya belum pernah mengalami sikap seperti ini. Sejak saat itu, saya memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh demi melindungi klub, tim, dan para pendukung Roma.” Pernyataan itu diikuti oleh jeda panjang sebelum Gasperini melanjutkan, namun ketegangan terus terasa. Ia menegaskan bahwa fokus utamanya tetap pada pertandingan melawan Atalanta, namun tekanan internal telah menyusup ke setiap aspek persiapan tim.
Sementara perselisihan dengan Ranieri menjadi sorotan utama, Gasperini juga mengungkapkan adanya gesekan dengan staf medis klub terkait kebugaran pemain. Isu paling menonjol adalah kondisi winger Wesley, yang menurut pemain siap bertanding, namun staf medis menilai masih terdapat risiko cedera. “Jika dokter melarang, saya tidak punya pilihan selain menghormati keputusan mereka,” jelas Gasperini. Konflik ini menambah beban psikologis pada tim, mengingat Roma tengah berjuang untuk mengamankan tiket Liga Champions.
Posisi Roma saat ini berada di urutan keenam Serie A, hanya tiga poin tertinggal dari Juventus yang menempati posisi keempat. Dengan satu pertandingan penting melawan Atalanta—klub yang pernah dipimpin Gasperini selama sembilan tahun—nasib Roma di kompetisi Eropa semakin tidak pasti. Gasperini menekankan bahwa pertarungan tersebut harus dilihat secara teknis, bukan sebagai ajang balas dendam pribadi. “Saya ingin membicarakan sepak bola, bukan masalah pribadi. Kami berusaha tetap fokus pada taktik dan performa di lapangan,” ujarnya.
Kenangan tentang Atalanta muncul secara spontan saat Gasperini diminta mengenang masa kejayaan di Bergamo. Ia mengingat bagaimana klub kecil itu berhasil bersaing di kancah Eropa sambil tetap menghasilkan profit, sebuah pencapaian yang ia atributkan pada kerja sama harmonis antara manajemen dan pelatih. “Anomali Atalanta adalah mampu bermain di Eropa dan tetap menguntungkan. Itu bukan hanya berkat saya, melainkan karena klub sangat kompeten dan selaras dengan pelatih,” katanya. Namun, ia menambahkan, perubahan kepemilikan dan hilangnya sosok “ayah”—Antonio Percassi—menjadi faktor yang mengubah dinamika tersebut.
Ketegangan memuncak ketika Gasperini, dengan suara yang mulai bergetar, mengakhiri konferensi pers lebih awal dan meninggalkan ruangan dalam keadaan menangis. Kejadian ini menjadi momen langka dalam sejarah Serie A, di mana seorang pelatih senior menunjukkan kerentanan pribadi di depan publik. Meski demikian, ia menegaskan kembali komitmennya untuk memimpin Roma melewati fase sulit ini, berharap bahwa pertandingan melawan Atalanta dapat menjadi titik balik yang membawa klub kembali ke jalur Liga Champions.











