GemaWarta – 28 April 2026 | Herzliya, Israel – Pada Minggu (26/4/2026) mantan perdana menteri Naftali Bennett dan Yair Lapid mengumumkan pembentukan koalisi baru yang dinamai “Together”. Aliansi ini menggabungkan partai Bennett 2026 dan Yesh Atid (There is a Future) dengan tujuan utama menantang dominasi Benjamin Netanyahu dalam pemilu yang diperkirakan akan digelar pada akhir tahun ini.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam konferensi pers bersama yang disiarkan secara nasional. Bennett menegaskan, “Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa malam ini, bersama sahabat saya Yair Lapid, kami mengambil langkah paling Zionis dan patriotik yang pernah kami lakukan untuk negara kami.” Lapid menambahkan, “Bennett adalah politisi sayap kanan, tetapi jujur, dan ada kepercayaan di antara kami. Langkah ini dimaksudkan untuk menyatukan blok, mengakhiri perpecahan internal, dan memfokuskan seluruh upaya pada kemenangan dalam pemilu penting yang akan datang – serta membawa Israel maju ke masa depan.”
Koalisi Bennett‑Lapid muncul di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintahan Netanyahu pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan operasi militer di Gaza yang menimbulkan kontroversi internasional. Bennett berjanji akan membentuk komisi penyelidikan nasional jika terpilih, guna mengusut kegagalan kebijakan keamanan yang menyebabkan serangan tersebut. Lapid juga menyoroti gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai “bencana politik” yang memperparah situasi keamanan.
Sejarah kolaborasi keduanya tidak baru. Pada pemilu 2021, Bennett (pemimpin koalisi kanan) dan Lapid (pemimpin partai sentris) berhasil menggulingkan Netanyahu setelah 12 tahun berkuasa, meskipun pemerintahan koalisi mereka hanya bertahan sekitar 18 bulan. Kini, mereka kembali berupaya mengulang momentum tersebut dengan pendekatan yang lebih terstruktur, mengingat pengalaman kegagalan sebelumnya.
Berikut beberapa poin kunci dari strategi koalisi:
- Nama Partai: “Together” akan menjadi identitas politik baru, menandakan persatuan oposisi.
- Kepemimpinan: Naftali Bennett akan memegang kursi pimpinan, sementara Lapid akan berperan sebagai tokoh kunci dalam kampanye.
- Agenda Utama: Reformasi keamanan, peninjauan kebijakan luar negeri, dan peningkatan transparansi pemerintahan.
- Target Pemilih: Memperoleh dukungan dari warga moderat, komunitas minoritas, serta pemilih muda yang kecewa dengan kebijakan Netanyahu.
Analisis politisi lokal memperkirakan koalisi ini memiliki peluang signifikan untuk menggeser mayoritas kursi di Knesset, terutama jika mampu menyatukan partai-partai kecil yang selama ini terpecah. Survei terbaru menunjukkan penurunan persentase dukungan Netanyahu hingga 30%, sementara koalisi “Together” memperoleh sekitar 25% dalam beberapa wilayah strategis.
Namun, tantangan tetap besar. Koalisi ultra‑Ortodoks tradisional yang selama ini menjadi batu pijakan kekuasaan Netanyahu tetap memiliki pengaruh kuat di dalam parlemen. Selain itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah, terutama ketegangan dengan Iran dan situasi di Gaza, dapat menjadi faktor penentu dalam persepsi pemilih.
Para pengamat menekankan pentingnya strategi komunikasi koalisi ini. Mereka harus menyeimbangkan retorika nasionalis dengan janji reformasi, serta menunjukkan kompetensi dalam menangani isu keamanan tanpa mengorbankan nilai-nilai demokratis.
Jika koalisi Bennett‑Lapid berhasil menggalang mayoritas, mereka berjanji akan mengkaji kembali kebijakan luar negeri Israel, memperkuat hubungan dengan sekutu tradisional, sekaligus membuka ruang dialog dengan pihak-pihak yang selama ini terpinggirkan. Langkah ini dipandang sebagai upaya mengembalikan stabilitas politik dan mengurangi polarisasi dalam masyarakat Israel.
Secara keseluruhan, pembentukan aliansi “Together” menandai babak baru dalam politik Israel. Keberhasilan atau kegagalannya akan sangat menentukan arah kebijakan domestik dan luar negeri negara tersebut menjelang pemilu 2026.











