GemaWarta – 28 April 2026 | Jakarta, 1 Mei 2026 – Pada sore hari Jumat, ribuan massa turun ke Jalan Gatot Subroto, tepat di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, menggelar aksi demo yang tidak hanya menyuarakan tuntutan buruh, tetapi juga menegaskan dukungan terhadap seruan Paus Leo XIV untuk menghentikan perang antara Amerika Serikat dan Iran. Aksi tersebut berlangsung beriringan dengan peringatan Hari Buruh Internasional, menjadikan hari itu sebagai panggung pertemuan antara isu‑isu ketenagakerjaan dan perdamaian internasional.
Para demonstran, mayoritas anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), mengelilingi Kedubes AS sambil mengibarkan spanduk berwarna merah dan putih yang menuliskan “STOP PERANG IRAN” serta “SUPPORT POPE’S CALL”. Suara yel‑yel massal mengalun, “Damai untuk semua!” menambah semarak suasana. Selain menuntut pengesahan Undang‑Undang Ketenagakerjaan yang baru, penurunan tarif potongan ojek online, dan penghapusan praktik outsourcing, para peserta aksi menekankan pentingnya dialog damai serta menolak eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Suasana semakin memanas ketika sekelompok mahasiswa hubungan internasional memperdengarkan rekaman pidato Paus Leo XIV yang disiarkan secara daring, di mana Paus menyerukan “dengan segala kerendahan hati, mari kita hentikan konflik yang tak memberi manfaat bagi siapa pun”. Pidato tersebut menjadi simbol moral bagi para demonstran yang menilai perang bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan pekerja global yang terkena dampak ekonomi dari sanksi dan fluktuasi harga energi.
Lokasi demo dipilih strategis. Kedutaan Besar Amerika Serikat berada di jantung kawasan diplomatik, berdekatan dengan Istana Negara dan Monas. Massa berkumpul terlebih dahulu di Monas, kemudian berbaris menuju Kedubes sambil melantunkan slogan “Damai, Keadilan, dan Pekerjaan Layak”. Penjagaan keamanan yang ketat diterapkan oleh Polri, namun tidak terjadi bentrokan signifikan. Petugas keamanan Kedubes AS memberi ruang bagi demonstran untuk menyampaikan aspirasi mereka, sambil memastikan tidak ada tindakan yang mengganggu operasional kedutaan.
Berikut adalah enam tuntutan utama yang dibawa para buruh dalam aksi tersebut:
- Pengesahan Undang‑Undang Ketenagakerjaan yang baru, yang mencakup perlindungan kerja tetap, upah layak, dan mekanisme PHK yang adil.
- Penghapusan praktik outsourcing yang dianggap menekan upah dan mengurangi keamanan kerja (HOSTUM).
- Penurunan tarif potongan layanan ojek online menjadi 10 persen, demi melindungi pendapatan pengemudi.
- Peningkatan upah minimum regional sesuai dengan inflasi dan biaya hidup.
- Penegakan hak serikat pekerja untuk melakukan perundingan bersama tanpa intervensi.
- Dukungan terhadap seruan perdamaian internasional, khususnya ajakan Paus Leo XIV untuk menghentikan konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Para tokoh penting hadir dalam aksi, termasuk Ketua KSPI, Budi Santoso, yang menyampaikan bahwa “perjuangan hak pekerja tak dapat dipisahkan dari upaya menciptakan dunia yang aman dan damai”. Di sisi lain, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Michael Hart, memberikan pernyataan singkat melalui konferensi pers virtual, menyatakan bahwa Amerika Serikat menghargai kebebasan berserikat dan menegaskan komitmen untuk terus mengejar solusi diplomatik dalam hubungan dengan Iran.
Reaksi publik di media sosial menguatkan pesan demonstran. Tagar #DemoKedubesAS dan #StopPerangIran menjadi trending di Twitter Indonesia, dengan lebih dari 250 ribu posting dalam 12 jam pertama. Netizen menilai aksi ini sebagai contoh sinergi antara isu domestik dan internasional, serta menunjukkan bahwa suara rakyat dapat memengaruhi kebijakan luar negeri.
Pengamat politik, Dr. Siti Aisyah dari Universitas Indonesia, menilai bahwa aksi ini menandai perubahan paradigma dalam gerakan buruh Indonesia, yang kini tidak hanya fokus pada hak‑hak kerja, tetapi juga menyoroti tanggung jawab global. Ia menambahkan, “Jika para pekerja dapat bersatu mendukung perdamaian, maka pemerintah dan pemangku kepentingan lain harus mendengarkan dan menindaklanjuti”.
Secara keseluruhan, demo di Kedubes AS Jakarta berhasil menggabungkan dua agenda penting: memperjuangkan hak‑hak pekerja di dalam negeri dan menyerukan penghentian konflik militer di luar negeri. Meskipun belum ada keputusan kebijakan konkret dari pemerintah atau Kedutaan Besar Amerika Serikat, aksi tersebut menambah tekanan moral bagi pihak‑pihak terkait untuk kembali ke meja diplomasi.
Dengan ribuan suara yang bergema di kawasan diplomatik, aksi demo ini menegaskan bahwa aspirasi rakyat Indonesia tidak hanya berakar pada isu‑isu lokal, melainkan juga pada panggilan universal untuk perdamaian. Keberhasilan menggelar aksi damai di depan kedutaan asing ini menjadi contoh bagi gerakan serupa di masa mendatang, mengingatkan bahwa solidaritas lintas isu dapat menjadi kekuatan perubahan.











