GemaWarta – 29 April 2026 | Iran kembali menegaskan kontrolnya atas Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, setelah berhasil menyita dua kapal kargo komersial yang terafiliasi dengan Israel. Penangkapan ini terjadi bersamaan dengan laporan bahwa sebuah superyacht milik miliarder Rusia, Nord, berhasil melintasi selat yang sama tanpa gangguan pada akhir pekan lalu. Kedua peristiwa tersebut menambah ketegangan di kawasan yang telah menjadi arena persaingan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Tehran sejak konflik bersenjata yang meletus pada akhir Februari 2026.
Menurut data pelayaran yang dipublikasikan oleh platform MarineTraffic, kapal kargo berflag Malta, MV Orion, dan kapal berflag Liberia, MV Pegasus, keduanya mengangkut barang-barang elektronik dan bahan kimia, menelusuri rute standar melalui Selat Hormuz pada 24 April 2026. Kedua kapal tersebut tidak mengajukan permohonan izin masuk ke perairan Iran, yang sejak awal konflik Iran telah memberlakukan larangan hampir menyeluruh bagi kapal asing yang tidak memiliki izin khusus. Pada pagi hari 25 April, unit patroli Angkatan Laut Iran mendeteksi keberadaan kedua kapal di zona kontrol dan secara resmi menegaskan bahwa mereka melanggar hukum maritim Iran.
Setelah peringatan radio, kedua kapal tidak merespons. Petugas Iran kemudian menurunkan tim penyelamat yang mengamankan kapal, menahan kru, dan mengamankan muatan. Penahanan ini diumumkan melalui kantor berita resmi IRNA, yang menyatakan bahwa tindakan tersebut “merupakan langkah defensif untuk melindungi kedaulatan Iran dan keamanan perairan nasional.” Sementara itu, pemerintah Israel menolak tuduhan pelanggaran, menegaskan bahwa kedua kapal beroperasi sesuai dengan standar internasional dan tidak mengancam keamanan regional.
Berbeda dengan insiden ini, sebuah superyacht berukuran 142 meter bernama Nord, milik miliarder Rusia Alexey Mordashov, melintasi Selat Hormuz pada 25 April 2026 tanpa halangan. Nord, yang memiliki nilai lebih dari US$ 500 juta, berangkat dari pelabuhan Dubai pada 24 April dan tiba di Muscat, Oman, pada 26 April. Tidak ada laporan mengenai permintaan izin khusus atau intervensi dari pihak Iran. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang standar penerapan kebijakan Iran, mengingat kapal superyacht milik tokoh yang dekat dengan Kremlin berhasil melewati wilayah yang sama tanpa hambatan.
Para analis militer menilai perbedaan perlakuan ini mencerminkan dinamika politik yang kompleks. Iran telah menegaskan bahwa kapal dengan afiliasi Israel atau negara yang dianggap mendukung AS berada dalam zona larangan, sementara kapal milik warga negara yang bersahabat, seperti Rusia, dapat diberikan kelonggaran. Hubungan Iran dan Rusia yang semakin erat, termasuk perjanjian keamanan 2025, memperkuat spekulasi bahwa Iran mungkin menggunakan kebijakan maritimnya sebagai alat diplomasi.
Keamanan Selat Hormuz sangat krusial karena selat ini menjadi jalur bagi sekitar 20% produksi minyak dunia. Sebelum konflik, rata-rata 125-140 kapal melintas tiap hari. Sejak penutupan sebagian perairan oleh Iran, jumlah kapal yang diizinkan turun drastis, memicu kekhawatiran pasar energi global. Amerika Serikat menanggapi dengan memperketat blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Tehran, meningkatkan risiko konfrontasi langsung di perairan internasional.
Reaksi internasional beragam. PBB mengeluarkan pernyataan yang menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan memastikan kebebasan navigasi sesuai Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Uni Eropa menuntut transparansi dalam proses penahanan, sementara China, sebagai pengguna utama jalur perdagangan tersebut, mengingatkan akan pentingnya stabilitas maritim.
Dalam konteks hukum, Iran berargumen bahwa tindakan penangkapan didasarkan pada Undang-Undang Maritim Iran yang mewajibkan izin masuk bagi semua kapal asing. Namun, kritikus mengingatkan bahwa penegakan yang selektif dapat melanggar prinsip kebebasan navigasi internasional, yang dapat menimbulkan sengketa hukum di pengadilan internasional.
Situasi ini menegaskan betapa Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan dalam geopolitik dunia. Sementara kapal kargo Israel terhenti, superyacht Rusia melaju bebas, menyoroti perbedaan perlakuan berdasarkan afiliasi politik. Kedepannya, ketegangan di selat ini kemungkinan akan terus mempengaruhi harga minyak, keamanan perdagangan, dan hubungan diplomatik antara blok Barat dan Timur.











