GemaWarta – 12 Juni 2026 | Konflik antara Pakistan dan Afghanistan kembali memanas setelah serangan udara menewaskan 13 orang, termasuk 11 anak-anak, di provinsi Khost, Kunar, dan Paktika, Afghanistan. Taliban mengaku bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Pakistan, tetapi Pakistan membantah klaim tersebut dan mengatakan bahwa target serangan adalah kelompok militan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang beroperasi di wilayah perbatasan.
United Nations Assistance Mission in Afghanistan (UNAMA) telah mengkonfirmasi bahwa setidaknya 13 orang tewas dan 10 lainnya terluka dalam serangan udara tersebut. UNAMA juga menegaskan bahwa serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran yang meningkat atas dampaknya terhadap warga sipil.
Konflik antara Pakistan dan Afghanistan telah berlangsung selama beberapa waktu, dengan kedua negara saling menuduh satu sama lain atas kekerasan dan infiltrasi di perbatasan. Serangan udara terbaru ini dikhawatirkan akan memperburuk situasi dan memicu eskalasi kekerasan lebih lanjut.
Situasi ini juga memiliki dampak pada perekonomian regional, karena konflik ini dapat mempengaruhi perdagangan dan investasi di wilayah tersebut. World Bank telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,5% untuk tahun 2026, dengan peringatan bahwa pertumbuhan dapat melambat menjadi 1,3% jika kekacauan energi dan ketidakstabilan keuangan semakin parah.
Di tengah ketegangan ini, masyarakat sipil menjadi korban, terutama anak-anak dan perempuan. Kasus ini menyoroti pentingnya upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik dan mempromosikan perdamaian di wilayah tersebut.
Sebagai bagian dari upaya untuk memahami dampak konflik ini, sebuah pameran di Melbourne, Australia, menampilkan kisah-kisah tentang pengungsi Afghanistan yang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena kekerasan dan perang. Pameran ini menjadi pengingat tentang humanisasi konflik dan pentingnya mendukung mereka yang terkena dampak.
Kesimpulan dari konflik Pakistan-Afghanistan ini adalah bahwa kekerasan dan konflik hanya akan memperburuk situasi dan menimbulkan penderitaan bagi masyarakat sipil. Oleh karena itu, diperlukan upaya diplomatik yang serius dan kerja sama internasional untuk menyelesaikan konflik ini dan mempromosikan perdamaian di wilayah tersebut.











