Internasional

Iran Tegas: Uranium Iran Tak Akan Diserahkan ke AS, Bantah Klaim Trump

×

Iran Tegas: Uranium Iran Tak Akan Diserahkan ke AS, Bantah Klaim Trump

Share this article
Iran Tegas: Uranium Iran Tak Akan Diserahkan ke AS, Bantah Klaim Trump
Iran Tegas: Uranium Iran Tak Akan Diserahkan ke AS, Bantah Klaim Trump

GemaWarta – 19 April 2026 | Jumat, 17 April 2026 – Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicara Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa uranium Iran yang telah diperkaya tidak akan dipindahkan ke negara mana pun, termasuk Amerika Serikat. Pernyataan ini secara tegas membantah klaim mantan Presiden AS Donald Trump yang sempat mengumumkan bahwa Tehran setuju menyerahkan material nuklir tersebut.

Menurut Baqaei, isu pemindahan uranium tidak pernah menjadi bagian dari negosiasi resmi antara kedua negara. “Uranium yang diperkaya Iran tidak akan ditransfer ke mana pun,” tegasnya kepada televisi pemerintah Iran. Ia menambahkan, “Transfer uranium yang diperkaya Iran ke AS tidak pernah diajukan dalam negosiasi.”

🔖 Baca juga:
Blokade Selat Hormuz Picu Negara-Negara Alih Impor Energi ke AS, Harga Minyak Meroket

Trump, yang mengunggah pernyataan kontroversial di platform Truth Social pada Jumat pagi, mengklaim bahwa Amerika Serikat akan memperoleh seluruh “debu nuklir” hasil serangan B‑2 terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu. Ia juga menyatakan kesiapan untuk kembali ke Islamabad, Pakistan, guna menandatangani perjanjian yang, menurutnya, sudah hampir selesai.

Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari pihak Tehran. Baqaei menolak tuduhan bahwa Iran bersedia menyerahkan cadangan uranium, menekankan bahwa fokus utama negosiasi kini beralih pada pengakhiran perang di kawasan Timur Tengah serta pencabutan sanksi. “Negosiasi sebelumnya berfokus pada masalah nuklir, tetapi sekarang negosiasi difokuskan untuk mengakhiri perang, dan tentu saja, berbagai topik yang dibahas menjadi lebih luas dan lebih beragam,” ujarnya.

Dalam rangkaian pertemuan yang berlangsung di Islamabad, pejabat Iran menawarkan jeda pengayaan selama lima tahun, sementara Washington menuntut pembekuan selama dua puluh tahun serta pemindahan uranium yang sangat diperkaya ke luar negeri. Laporan dari New York Times mengutip beberapa pejabat senior kedua belah pihak, menyebutkan bahwa Iran bersikeras agar uranium tetap berada di dalam negeri dan siap mengencerkannya hingga tingkat yang tidak layak untuk senjata.

🔖 Baca juga:
Rusia Ingatkan Iran: Gencatan Senjata Palsu AS Bisa Memicu Serangan Darat, Tehran Tolak Segala Bentuk Gencatan Senjata Sementara

Ketegangan ini muncul di tengah upaya internasional yang dipimpin oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk mengawasi program nuklir Iran. IAEA baru-baru ini merilis foto fasilitas pengayaan Natanz, menegaskan pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap perjanjian non‑proliferasi.

Sejumlah analis geopolitik menilai bahwa klaim Trump lebih bersifat politik domestik, mengingat ia masih aktif dalam arena politik AS menjelang pemilihan mendatang. Sementara itu, Iran menganggap tuntutan pemindahan uranium sebagai pelanggaran kedaulatan dan upaya memperlemah posisi tawar Tehran dalam negosiasi.

Para pengamat juga mencatat bahwa proposal 10 poin Iran, yang mencakup pencabutan sanksi dan kompensasi atas kerusakan perang, menjadi inti diskusi. Iran menekankan bahwa tanpa penghapusan sanksi, langkah-langkah teknis seperti pembekuan pengayaan tidak akan memberikan manfaat strategis yang diharapkan.

🔖 Baca juga:
Iran Ancaman Tutup Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab: Dampak Besar bagi Asia dan Dunia

Hingga kini, belum ada tanggal pasti untuk pertemuan lanjutan antara pejabat AS dan Iran. Kedua belah pihak tampaknya masih berada pada posisi yang saling menolak, terutama mengenai isu uranium Iran. Situasi ini menambah kompleksitas dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah, di mana kepentingan energi, politik, dan militer saling bersilangan.

Dalam konteks global, perdebatan tentang uranium Iran mencerminkan tantangan diplomasi nuklir di era multipolaritas. Sementara Amerika Serikat menekankan kebutuhan untuk mencegah proliferasi, Iran menegaskan haknya atas sumber daya nuklir untuk tujuan damai, selaras dengan perjanjian Non‑Proliferasi Nuklir (NPT). Kedepannya, tekanan internasional kemungkinan akan terus menguji ketahanan kedua negara dalam mempertahankan posisi masing‑masing.

Kesimpulannya, pernyataan tegas Iran mengenai uranium Iran menegaskan bahwa tidak ada rencana transfer material nuklir ke AS, sekaligus menyoroti kesenjangan antara klaim politik dan realitas diplomatik. Negosiasi yang masih berjalan menuntut kompromi yang kompleks, dan perkembangan selanjutnya akan menjadi indikator penting bagi stabilitas regional serta dinamika hubungan Amerika‑Iran ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *