GemaWarta – 04 Mei 2026 | Jakarta, 3 Mei 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan bahwa pemerintah tengah mempersiapkan compressed natural gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram sebagai alternatif utama pengganti LPG 3 kilogram. Dalam sambutannya pada acara Himpunan Alumni IPB, Bahlil menegaskan bahwa harga CNG 3 kg diperkirakan lebih murah 30‑40 persen dibandingkan LPG konvensional.
Pengembangan CNG bukanlah inisiatif baru. Beberapa hotel, restoran, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menggunakan CNG selama beberapa tahun terakhir. Keunggulan utama terletak pada sumber bahan bakunya yang berasal dari gas alam dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor LPG yang selama ini mencapai sekitar tujuh juta ton per tahun.
Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6‑1,7 juta ton. Selisih yang besar menjadi celah strategis yang ingin ditutup melalui pemanfaatan CNG. Dengan menekan biaya energi rumah tangga, pemerintah berharap dapat menurunkan beban subsidi energi sekaligus menstabilkan harga pasar.
Secara teknis, CNG merupakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan 200‑250 bar (sekitar 2.900‑3.600 psi). Tabung CNG dirancang dengan standar keamanan tinggi, mampu menahan tekanan hingga 650 bar. Meskipun demikian, Bahlil mengakui tantangan utama terletak pada infrastruktur distribusi dan jaringan pengisian yang masih terbatas, terutama di wilayah pedesaan.
Berikut ini ringkasan perbandingan antara LPG dan CNG 3 kg:
| Aspek | LPG 3 kg | CNG 3 kg |
|---|---|---|
| Sumber bahan bakar | Impor mayoritas | Gas alam dalam negeri |
| Tekanan penyimpanan | Cair pada tekanan rendah | Gas pada 200‑250 bar |
| Emisi CO₂ | Lebih tinggi | Lebih rendah |
| Harga (perkiraan) | Rp 107.000‑228.000 per tabung | 30‑40% lebih murah |
Selain keuntungan ekonomi, CNG juga menawarkan manfaat lingkungan. Emisi karbon dari CNG berada di bawah 2,5 kg CO₂ per gigajoule, lebih rendah dibandingkan LPG yang menghasilkan sekitar 3,2 kg CO₂ per gigajoule. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan intensitas karbon dalam bauran energi nasional.
Rencana penghapusan tabung “melon” (tabung LPG tradisional berwarna kuning) menjadi bagian dari kebijakan transisi. Pemerintah berencana menghentikan produksi dan distribusi tabung melon secara bertahap, menggantinya dengan tabung CNG berstandar internasional. Proses ini diharapkan dapat menyederhanakan rantai pasok, mengurangi limbah plastik, dan menurunkan biaya logistik.
Untuk mempercepat adopsi, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Pertamina. PGN sudah mulai menyalurkan CNG ke beberapa kota, termasuk Balikpapan dan Surabaya. Di sisi lain, Pertamina berencana mengintegrasikan CNG ke jaringan stasiun pengisian BBM yang ada, sehingga konsumen dapat beralih tanpa harus membangun infrastruktur baru secara terpisah.
Berbagai pihak industri menyambut baik inisiatif ini. Asosiasi Pengusaha Gas Indonesia (APGI) menilai bahwa ketersediaan CNG 3 kg akan membuka peluang pasar baru, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah yang selama ini terbebani oleh fluktuasi harga LPG. Sektor transportasi juga dapat merasakan manfaat, mengingat CNG sudah populer sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel ringan.
Namun, beberapa pengamat mengingatkan bahwa transisi tidak akan berjalan mulus. Ketersediaan tabung CNG, pelatihan teknisi, serta sosialisasi keamanan bagi konsumen menjadi faktor krusial. Pemerintah berjanji akan meluncurkan program subsidi awal bagi pembelian tabung CNG serta memberikan insentif bagi produsen yang beralih ke teknologi ini.
Secara keseluruhan, kebijakan CNG 3 kg menandai langkah strategis Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi, menurunkan ketergantungan pada impor, dan mengendalikan inflasi energi. Jika berhasil, skema ini dapat menjadi contoh bagi negara‑negara lain di kawasan Asia Tenggara yang menghadapi tantangan serupa.
Dengan dukungan lintas sektor, pemerintah menargetkan peluncuran komersial CNG 3 kg pada akhir 2026, sekaligus memulai fase penghentian produksi tabung melon dalam tiga tahun ke depan.











