Ekonomi

Harga Minyak Mentah Mencapai US$120/barel: Dampak Mandeknya Negosiasi Damai AS‑Iran

×

Harga Minyak Mentah Mencapai US$120/barel: Dampak Mandeknya Negosiasi Damai AS‑Iran

Share this article
Harga Minyak Mentah Mencapai US$120/barel: Dampak Mandeknya Negosiasi Damai AS‑Iran
Harga Minyak Mentah Mencapai US$120/barel: Dampak Mandeknya Negosiasi Damai AS‑Iran

GemaWarta – 03 Mei 2026 | Pasar energi global kembali berada di ujung tanduk pada awal Mei 2026. Harga minyak mentah melaju mendekati US$120 per barel setelah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kebuntuan. Ketegangan di kawasan Teluk Persia, khususnya di Selat Hormuz, menambah tekanan pada pasokan dan menimbulkan spekulasi kenaikan tajam di kalangan pelaku pasar.

Berbagai analis memperkirakan bahwa peluang harga minyak mentah menembus US$120 per barel berada di atas 60 persen. Laporan CNBC mengindikasikan bahwa kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) belum mencapai puncaknya tahun ini, sementara platform prediction market Kalshi mencatat probabilitas lebih dari 50 persen untuk mencapai hampir US$127 per barel. Data tersebut menandai kenaikan signifikan dibandingkan harga penutupan tertinggi pada awal April, yang hanya berada di kisaran US$113 per barel.

🔖 Baca juga:
Kemenkeu Janjikan Bebas PPh 21 untuk Pekerja di Lima Sektor Padat Karya Selama 2026

Pergeseran sentimen ini kontras dengan laporan sebelumnya yang mencatat penurunan harga minyak mentah sebesar 3 persen setelah Iran mengajukan proposal damai terbaru kepada Amerika Serikat. Pada perdagangan Jumat, kontrak berjangka minyak mentah AS ditutup pada level US$101,94 per barel, sementara Brent crude melemah menjadi US$108,17 per barel. Proposal damai yang disampaikan melalui mediator di Pakistan sempat menimbulkan harapan akan de‑eskalasi konflik, namun ketidakpuasan Presiden Donald Trump terhadap tawaran tersebut menahan momentum penurunan harga.

Berbagai faktor strategis menjadi pemicu utama volatilitas harga minyak mentah. Selat Hormuz, jalur pelayaran utama yang menyumbang sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, masih berada di bawah ancaman blokade laut oleh kapal-kapal militer AS. Ketidakpastian mengenai pembukaan kembali selat tersebut menurunkan kepercayaan investor, yang kemudian beralih ke instrumen lindung nilai dan meningkatkan permintaan kontrak berjangka.

Berikut ini rangkuman proyeksi harga minyak mentah berdasarkan beberapa lembaga riset:

🔖 Baca juga:
Net Buy Asing Rp473 Miliar Saat IHSG Turun: Saham BNI, EMPS, dan ANTM Jadi Primadona
Level Harga (USD/barel) Probabilitas
US$110 45 %
US$120 63 %
US$127 52 %
US$150 26 %

Data di atas menunjukkan penurunan tajam peluang harga menembus US$150 per barel, dari lebih dari 50 persen pada awal April menjadi hanya sekitar satu perempat. Penurunan ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi pasar seiring perkembangan diplomatik yang belum menghasilkan kepastian konkrit.

Para analis menilai bahwa volatilitas harga minyak mentah akan tetap tinggi selama konflik belum sepenuhnya reda. Skenario terburuk mencakup eskalasi militer di wilayah Teluk, yang dapat memicu lonjakan harga di atas US$130 per barel dalam hitungan minggu. Sebaliknya, jika negosiasi damai kembali berjalan lancar dan Selat Hormuz terbuka kembali, harga dapat kembali turun ke kisaran US$100‑105 per barel.

Dalam jangka menengah, harga minyak mentah diproyeksikan akan tetap dipengaruhi oleh kebijakan energi negara‑negara produsen OPEC+ serta dinamika permintaan dari ekonomi Asia yang sedang pulih pasca‑pandemi. Penguatan permintaan di China dan India dapat menambah beban pada pasokan, sementara kebijakan fiskal dan moneter di Amerika Serikat turut memengaruhi nilai tukar dolar, faktor penting dalam penetapan harga komoditas.

🔖 Baca juga:
IHSG Merosot, Namun Saham BNBR Melaju Tajam di Tengah Volatilitas Pasar

Secara keseluruhan, pasar energi global berada dalam fase ketidakpastian yang mendalam. Harga minyak mentah yang mendekati US$120 per barel mencerminkan kombinasi tekanan geopolitik, spekulasi pasar, dan respons kebijakan luar negeri. Pengamat menyarankan pelaku industri untuk memperkuat strategi manajemen risiko dan memantau perkembangan diplomatik secara real‑time.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *