GemaWarta – 02 Mei 2026 | Pada Sabtu, 2 Mei 2026, pasar logam mulia Indonesia kembali menjadi sorotan utama setelah harga perak Antam (ANTM) mengalami penurunan signifikan yang mendorongnya masuk ke zona merah. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga perak di Bengkulu Selatan yang kini mencapai Rp70.000 per gram, menimbulkan dinamika yang menarik bagi para investor dan pelaku industri.
Penurunan harga perak Antam dipicu oleh beberapa faktor makroekonomi, termasuk penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta penurunan permintaan industri global. Pada hari itu, harga spot perak di bursa internasional berada di kisaran USD 0,68 per ounce, menurun sekitar 2,5% dari level minggu sebelumnya. Kombinasi tersebut membuat para pedagang di Bursa Efek Indonesia (BEI) menurunkan harga penawaran Antam, sehingga indeks logam mulia masuk ke zona merah untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir.
Sementara itu, wilayah Bengkulu Selatan melaporkan kenaikan harga perak yang tidak terduga. Menurut data pedagang lokal, harga per gram naik menjadi Rp70.000, melampaui rata-rata nasional yang berada di sekitar Rp62.000 per gram. Kenaikan ini dipengaruhi oleh peningkatan permintaan dari sektor perhiasan lokal serta spekulasi investasi di daerah pesisir yang tengah mengalami peningkatan aktivitas perdagangan logam mulia.
Berikut adalah perbandingan harga perak pada tanggal 2 Mei 2026:
| Lokasi | Harga per gram (Rp) | Keterangan |
|---|---|---|
| Antam (ANTM) – Nasional | 62.000 | Zona Merah, penurunan 3,2% |
| Bengkulu Selatan | 70.000 | Naik 12,9% dalam 24 jam |
| Pasar Internasional (USD/oz) | 0,68 | Penurunan 2,5% terhadap dolar |
Para analis menyarankan agar investor memperhatikan volatilitas jangka pendek dan mengkaji fundamental permintaan perak secara lebih mendalam. Permintaan industri, terutama dari sektor elektronik, fotovoltaik, dan peralatan medis, tetap menjadi pendorong utama harga perak. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, permintaan tersebut mengalami penurunan karena penurunan produksi panel surya di China serta penurunan pembelian peralatan medis pasca pandemi.
Di sisi lain, faktor geopolitik juga memberikan dampak. Ketegangan di beberapa wilayah penghasil perak utama, seperti Meksiko dan Peru, menimbulkan kekhawatiran pasokan jangka menengah. Meskipun demikian, penurunan harga Antam menunjukkan bahwa faktor domestik, khususnya nilai tukar dan kebijakan moneter, masih memiliki pengaruh lebih besar pada pasar dalam negeri.
Tak hanya pasar logam mulia, peristiwa lain di wilayah Indonesia pada hari yang sama turut memengaruhi sentimen investor. BMKG memperingatkan potensi banjir rob di pesisir Jawa Timur akibat pasang maksimum yang dipicu oleh fase bulan purnama. Meskipun tidak langsung terkait dengan logam mulia, peringatan tersebut menambah ketidakpastian pada aktivitas ekonomi di kawasan pesisir, termasuk perdagangan perak yang biasanya terjadi di pelabuhan-pelabuhan utama.
Di tengah situasi yang fluktuatif, para pelaku pasar disarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio. Mempertimbangkan investasi pada logam mulia lain seperti emas atau platina dapat menjadi strategi mitigasi risiko. Selain itu, mengikuti perkembangan kebijakan Bank Indonesia terkait suku bunga dan kurs rupiah akan memberikan gambaran lebih jelas tentang arah pergerakan harga perak dalam beberapa minggu ke depan.
Secara keseluruhan, harga perak saat ini menunjukkan pola dualisme: penurunan di tingkat nasional yang dipimpin oleh Antam, sementara daerah tertentu seperti Bengkulu Selatan mencatat kenaikan tajam. Dinamika ini menegaskan pentingnya pemantauan terus-menerus terhadap faktor-faktor fundamental dan teknikal bagi para investor yang ingin memanfaatkan peluang pasar.
Investor yang mempertimbangkan untuk menambah atau mengurangi posisi pada perak sebaiknya menunggu konfirmasi tren harga selama tiga hingga empat sesi perdagangan ke depan, serta memperhatikan data ekonomi makro yang akan dirilis, termasuk indeks inflasi dan neraca perdagangan logam mulia.











