GemaWarta – 07 Mei 2026 | Harga Bitcoin (BTC) mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, diperdagangkan di kisaran $81.000 hingga $82.000 pada Rabu, setelah mencatat kenaikan 1,4% dalam 24 jam terakhir. Lonjakan ini didorong oleh serangkaian faktor makro, termasuk laporan bahwa Pemerintah Amerika Serikat dan Iran tengah mendekati kesepakatan damai, aliran masuk dana ke produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin, serta pergeseran alokasi investor dari emas ke aset kripto.
Berita tentang kemungkinan perjanjian damai antara Washington dan Tehran muncul setelah sumber media Amerika melaporkan bahwa tim diplomatik termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner tengah menyiapkan memorandum pemahaman satu halaman berisi 14 poin. Jika disepakati, perjanjian tersebut dapat membuka jendela 30 hari untuk negosiasi lanjutan mengenai Selat Hormuz, program nuklir Iran, serta pelonggaran sanksi AS. Pengumuman ini meningkatkan sentimen risiko, mendorong investor beralih ke aset berisiko tinggi seperti Bitcoin dan saham.
Di samping dinamika geopolitik, aliran dana ke ETF Bitcoin juga berperan penting. Analisis dari Bitget Research mencatat bahwa inflow institusional ke produk ETF kripto terus meningkat, menandakan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai alternatif hedging terhadap inflasi dan ketidakpastian pasar tradisional. Pada saat yang sama, harga emas mengalami penurunan 11% sejak awal konflik, dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah yang menurunkan daya tarik aset tanpa imbal hasil.
Indeks Relative Strength Index (RSI) Bitcoin mencatat nilai 71, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, menandakan momentum bullish yang kuat. RSI tersebut sebelumnya terakhir kali tercapai saat Bitcoin menyentuh level tertinggi sepanjang masa di $126.080. Kombinasi RSI tinggi dan volume perdagangan yang meningkat memperkuat dugaan bahwa tren naik dapat berlanjut.
Namun, ketidakpastian masih menyelimuti proses negosiasi. Pemerintah AS menuntut respons Iran dalam 48 jam, sementara Tehran menegaskan hanya akan menandatangani kesepakatan yang dianggap adil. Presiden Donald Trump, melalui platform media sosial, menekankan bahwa kesepakatan akan membuka Selat Hormuz untuk semua pihak, termasuk Iran, dan mengakhiri “Epic Fury” yang selama ini membayangi wilayah tersebut. Sebaliknya, jika negosiasi gagal, Trump memperingatkan eskalasi militer dengan intensitas lebih tinggi.
Dalam konteks pasar global, indeks S&P 500 mencatat kenaikan 0,85% hingga rekor baru 7.366,25 poin, sementara harga minyak mentah WTI turun lebih dari 10% menjadi $93 per barel. Penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi, memberikan ruang napas bagi kebijakan moneter yang lebih lunak. Namun, analis mencatat bahwa lonjakan harga minyak sebelumnya telah menambah tekanan pada real yields dan dolar AS, yang biasanya menurunkan daya tarik emas.
Berbagai analis memberikan proyeksi harga Bitcoin ke depan. Bitget Research memperkirakan bahwa jika ketegangan di Selat Hormuz berlanjut, kisaran harga Bitcoin dapat berfluktuasi antara $68.000 hingga $84.000, dengan potensi kenaikan lebih jauh jika aliran dana ke ETF tetap kuat. Sementara itu, laporan lain menyoroti risiko dari ketegangan Timur Tengah yang kembali memuncak, yang dapat menurunkan sentimen risiko dan menurunkan harga Bitcoin kembali ke level di bawah $80.000.
Weekly outlook dari sumber pasar crypto menambahkan bahwa kenaikan minyak ke $150 per barel dapat menekan performa Bitcoin, mengingat hubungan terbalik antara harga kripto dan komoditas energi. Di sisi lain, kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga hingga Maret 2027 menciptakan lingkungan suku bunga tinggi yang dapat membatasi upside Bitcoin dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor geopolitik positif, aliran institusional ke ETF, dan pergeseran alokasi dari emas ke kripto memberikan dorongan kuat bagi Bitcoin untuk menguji level $84.000. Namun, volatilitas yang tinggi tetap menjadi karakteristik utama pasar kripto, sehingga investor disarankan untuk tetap memperhatikan perkembangan politik, kebijakan moneter, dan harga energi.
Kesimpulannya, Bitcoin berada pada titik penting yang dapat menentukan arah pergerakan harga jangka panjang. Jika perjanjian damai US-Iran terwujud dan aliran dana ke ETF terus menguat, Bitcoin berpeluang melampaui $84.000 dan melanjutkan perjalanan menuju target $90.000. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau lonjakan harga minyak dapat mengembalikan tekanan jual, menurunkan harga ke level di bawah $80.000.









