Ekonomi

Purbaya Bantah Fiskal Jadi Penyebab Rupiah Melemah, Klaim APBN Tetap Dikelola Baik

×

Purbaya Bantah Fiskal Jadi Penyebab Rupiah Melemah, Klaim APBN Tetap Dikelola Baik

Share this article
Purbaya Bantah Fiskal Jadi Penyebab Rupiah Melemah, Klaim APBN Tetap Dikelola Baik
Purbaya Bantah Fiskal Jadi Penyebab Rupiah Melemah, Klaim APBN Tetap Dikelola Baik

GemaWarta – 08 Mei 2026 | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa risiko hiperinflasi di Indonesia masih jauh dari kenyataan. Ia sekaligus menepis kekhawatiran sejumlah pihak yang menilai Indonesia menuju lonjakan harga tidak terkendali.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026). Menurut dia, kondisi inflasi Indonesia saat ini masih terjaga dengan baik. Ia menyebut inflasi pada April 2026 berada di kisaran 2,4 persen.

🔖 Baca juga:
PPN jalan tol dan Pajak Orang Kaya: Menkeu Purbaya Tegaskan Masih Rencana Strategis, Bukan Kebijakan Aktif

“Ada yang bilang hiperinflasi baru-baru ini di TikTok . Kita menuju hiperinflasi, padahal dia enggak tahu definisi hiperinflasi itu apa,” ujar Purbaya. Ia menegaskan, inflasi sebesar 4-5 persen pun belum bisa disebut sebagai hiperinflasi.

“Bisa 4 persen, bisa 5 persen. Itu bukan hiperinflasi ya. Tapi dia nakut-nakutin,” lanjutnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan laju inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 mencapai 2,42 persen secara year on year (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48 persen.

🔖 Baca juga:
Dino Patti Djalal Bentak Wacana Tarif Selat Malaka: Ide Buruk yang Bisa Merusak Kredibilitas RI

Menurut Purbaya, angka itu menunjukkan kondisi inflasi masih dalam batas aman meski harga sejumlah barang mengalami kenaikan. “Terakhir hanya April itu 2,4 persen. Itu angka yang saya sebutkan selama ini, jadi masih terkendali,” kata dia.

Purbaya menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh dari situasi hiperinflasi. Pemerintah, kata dia, terus berupaya menjaga stabilitas inflasi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menjelaskan, hiperinflasi merupakan kondisi ketika inflasi melonjak sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 30 hingga 40 persen per bulan.

🔖 Baca juga:
Ekonomi Indonesia Tembus 5,61% di Kuartal I 2026, Tanda Kuatnya Pemulihan Pasca Pandemi

Dalam situasi seperti itu, nilai mata uang akan menurun drastis dan daya beli masyarakat akan sangat terganggu. Namun, Purbaya yakin bahwa Indonesia tidak akan mengalami hiperinflasi dalam waktu dekat.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir tentang kemungkinan hiperinflasi di Indonesia. Pemerintah akan terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan mempertahankan daya beli masyarakat.

Untuk itu, Purbaya berharap masyarakat dapat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak berdasar. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, Indonesia dapat terus maju dan berkembang dengan stabil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *