GemaWarta – 05 Mei 2026 | JAKARTA, 5 Mei 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara year‑on‑year (YoY) pada kuartal I 2026. Pencapaian ini didukung oleh Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) Rp 3.447,7 triliun.
Kenaikan tersebut melampaui pertumbuhan kuartal IV 2025 yang tercatat 5,39 persen serta pertumbuhan kuartal I 2025 yang hanya 4,87 persen. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers pada Selasa (5/5/2026).
Faktor utama yang menopang pertumbuhan tersebut adalah konsumsi rumah tangga yang kuat. Selama libur nasional, Hari Nyepi, dan Idul Fitri, mobilitas penduduk meningkat signifikan, menggerakkan sektor pariwisata domestik dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan nusantara mencapai 13,14 persen YoY. Pemerintah juga mengeluarkan berbagai stimulus, seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke‑14, serta penetapan suku bunga Bank Indonesia pada level 4,75 persen.
Para pejabat pemerintah menilai pencapaian ini sebagai bukti bahwa target pertumbuhan tahunan 5,4 persen masih realistis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, “Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan lebih besar atau sama dengan 5,5 persen,” sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut “bagus” mengingat daya beli masyarakat masih kuat.
Berbagai lembaga keuangan dan akademisi juga memberikan proyeksi yang beragam. Kepala Ekonom BBCA, David Sumual, memperkirakan pertumbuhan kuartal I 2026 sebesar 5,3 persen YoY, menyoroti perlambatan pada indeks konsumsi intrabel namun mengakui peningkatan belanja selama Ramadan dan Lebaran. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menargetkan 5,44 persen, mengaitkannya dengan kombinasi konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan pertumbuhan 5,48 persen (rentang 5,46‑5,50). Faktor musiman seperti Ramadan, Lebaran, serta pencairan THR menjadi pendorong utama, bersama dengan efek basis rendah dari pertumbuhan kuartal I 2025.
Secara global, pertumbuhan ekonomi dunia pada April 2026 dilaporkan hanya 3,1 persen, sementara negara‑negara berkembang mencatat 3,9 persen. Dengan demikian, pencapaian ekonomi Indonesia yang melampaui 5 persen menunjukkan daya tahan yang signifikan di tengah ketidakpastian internasional.
Berikut rangkuman data utama kuartal I 2026:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan YoY | 5,61 % |
| Pertumbuhan QoQ | -0,77 % |
| PDB ADHB | Rp 6.187,2 triliun |
| PDB ADHK | Rp 3.447,7 triliun |
| Wisatawan Nusantara YoY | 13,14 % |
Walaupun pertumbuhan kuartalan (qtq) menunjukkan kontraksi ringan sebesar 0,77 persen, momentum positif dari konsumsi, kebijakan fiskal, dan stimulus moneter diperkirakan akan mengembalikan tren positif pada kuartal berikutnya.
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 menegaskan kapasitas pemulihan yang kuat, sekaligus memberikan ruang bagi kebijakan lanjutan untuk menstabilkan inflasi dan memperkuat investasi produktif.











