Ekonomi

Rupiah Melemah, Investasi Obligasi Menjadi Pilihan Stabil

×

Rupiah Melemah, Investasi Obligasi Menjadi Pilihan Stabil

Share this article
Rupiah Melemah, Investasi Obligasi Menjadi Pilihan Stabil
Rupiah Melemah, Investasi Obligasi Menjadi Pilihan Stabil

GemaWarta – 10 Mei 2026 | Rupiah Indonesia melemah ke level Rp17.382 per dolar AS pada Jumat (8/5) sore, melemah 49 poin atau 0,28 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah dipicu oleh memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengganggu harapan pasar terhadap pembukaan Selat Hormuz.

Pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) usai sejumlah pejabatnya memberikan sinyal berbeda terkait inflasi dan suku bunga. Dari domestik, pasar turut mencermati kenaikan utang pemerintah yang mencapai Rp9.920,42 triliun per Maret 2026 atau setara 40,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

🔖 Baca juga:
Cina Larang Perusahaan Patuh pada Sanksi AS: Dampak Besar bagi Pasar Minyak Global

Dalam kondisi ekonomi global yang tidak pasti, obligasi kembali dilirik sebagai instrumen investasi yang stabil. Gejolak geopolitik, pelemahan rupiah, hingga fluktuasi pasar saham membuat obligasi menjadi pilihan yang menarik. Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy mengatakan obligasi masih layak dipertimbangkan untuk investasi saat ini.

Selain menawarkan pendapatan rutin dari kupon, obligasi juga dianggap memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan saham yang volatilitasnya tinggi. Namun, investor perlu memahami hubungan antara suku bunga dan harga obligasi. Semakin panjang tenor obligasi, biasanya semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga.

🔖 Baca juga:
VinFast Subang: Investasi Miliaran Dollar, Tantangan Besar yang Mengintai

Bagi investor pemula, obligasi pemerintah menjadi pilihan paling aman. Instrumen seperti ORI, SBR, dan Sukuk Ritel dijamin oleh pemerintah sehingga risiko gagal bayarnya sangat kecil. Dandy juga menilai Surat Utang Negara (SUN) ritel masih prospektif hingga akhir 2026.

Untuk mendapatkan hasil maksimal dari obligasi, investor perlu memahami beberapa hal. Pertama, obligasi menarik karena lebih stabil dibandingkan saham. Kedua, kenaikan suku bunga bisa menekan harga obligasi. Ketiga, obligasi cocok untuk investor yang ingin memperoleh penghasilan berkala dari kupon.

🔖 Baca juga:
Kospi Index Mencapai Rekor Tertinggi, Ditopang oleh Saham Chip

Keempat, investor perlu memilih obligasi pemerintah untuk meminimalkan risiko. Kelima, investor perlu memilih antara fixed rate atau floating rate sesuai dengan kondisi ekonomi. Terakhir, imbal hasil obligasi masih lebih tinggi dibandingkan deposito.

Dalam kesimpulan, pelemahan rupiah Indonesia dan ketidakpastian ekonomi global membuat obligasi menjadi pilihan investasi yang stabil. Investor perlu memahami beberapa hal sebelum berinvestasi obligasi, termasuk hubungan antara suku bunga dan harga obligasi, serta memilih obligasi pemerintah untuk meminimalkan risiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *