GemaWarta – 10 Mei 2026 | Selat Hormuz kembali menjadi sorotan internasional setelah kapal Korea Selatan mengalami ledakan di wilayah tersebut. Insiden ini memicu ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut laporan, kapal perusak tipe 45 milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Dragon, telah dikirim ke Timur Tengah untuk menghadapi kemungkinan keterlibatannya dalam misi internasional untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) menyebut misi ini sebagai operasi yang "sepenuhnya bersifat defensif dan independen".
Sementara itu, Iran telah menekankan pentingnya kendali atas Selat Hormuz, yang disebut sebagai "berkah" strategis yang telah diabaikan selama bertahun-tahun. Penasihat senior mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Mohammad Mokhber, mengatakan bahwa kemampuan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz setara dengan bom atom, karena dapat memengaruhi seluruh ekonomi global hanya dengan satu keputusan.
Ketegangan antara AS dan Iran telah memburuk sejak penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran pada tahun 2018. Insiden terbaru di Selat Hormuz ini dapat memperburuk situasi dan memicu konflik yang lebih besar di wilayah tersebut.
Iran telah menegaskan bahwa mereka tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz, yang disebut diperoleh melalui perjuangan perang. Mereka juga berupaya mengubah rezim pengelolaan selat tersebut melalui jalur internasional maupun regulasi domestik yang disahkan parlemen.
Dalam beberapa hari terakhir, televisi pemerintah Iran telah menarik persamaan kondisi yang terjadi saat ini dengan umat Islam di masa lalu, tepatnya pada kekalahan Pertempuran Uhud di dekat Madinah sekitar 1.400 tahun yang lalu. Pembawa acara di saluran Ofogh, Hossein Hosseini, mengatakan bahwa Selat Hormuz adalah celah Uhud-nya Iran, yang jika ditinggalkan, dapat membuka jalan bagi kekalahannya.
Dalam menghadapi situasi ini, dunia internasional harus waspada dan berusaha untuk menyelesaikan konflik tersebut dengan damai. Insiden di Selat Hormuz ini dapat menjadi awal dari konflik yang lebih besar, dan oleh karena itu, perlu diatasi dengan cepat dan efektif.
Kesimpulan dari insiden ini adalah bahwa ketegangan antara AS dan Iran telah memburuk, dan insiden di Selat Hormuz ini dapat memperburuk situasi. Iran telah menegaskan bahwa mereka tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz, dan dunia internasional harus waspada dan berusaha untuk menyelesaikan konflik tersebut dengan damai.











