GemaWarta – 12 Mei 2026 | Harga dolar Amerika Serikat (AS) di sejumlah perbankan dalam negeri makin mahal seiring pelemahan rupiah yang kian dalam. Rupiah bergerak melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi 17.483 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.414 per dolar AS.
Pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah telah menembus 17.510 per USD berdasarkan data wise.com. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah karena harapan damai AS-Iran sedang meredup.
Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran. Sikap Trump tersebut langsung meredam harapan pasar akan deeskalasi di kawasan Teluk. Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai.
Dari dalam negeri, pasar menyambut positif data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang meningkat tipis ke level 123,0 dari sebelumnya 122,9 pada Maret 2026. Terjaganya keyakinan konsumen didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini [IKE] yang naik ke level 116,5, mencerminkan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan daya beli.
Kurs jual dolar AS di beberapa bank seperti HSBC Indonesia, BCA, BRI, dan Mandiri juga memperlihatkan kenaikan. HSBC Indonesia mematok harga jual dolar AS sebesar Rp 17.700 dan untuk mekanisme tunai sebesar Rp 17.775 per dolar AS. BCA mencatatkan kurs jual dolar AS di TT counter dan Bank Notes sebesar Rp 17.660.
Bank Mandiri mematok kurs jual dolar AS di TT Counter dan Bank Notes sebesar Rp 17.560. Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,31% ke 98,25. Rupiah ditutup melemah 0,66% atau 115 poin ke Rp17.529 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Kondisi ini membuat rupiah semakin lemah terhadap dolar AS. Meskipun ada sentimen positif dari dalam negeri, faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik AS-Iran dan antisipasi kebijakan suku bunga Federal Reserve masih mempengaruhi nilai tukar rupiah.
Kesimpulan dari kejadian ini adalah bahwa nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS akibat berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, perlu diwaspadai dan dikaji lebih lanjut agar tidak terjadi dampak yang lebih besar pada perekonomian dalam negeri.











