GemaWarta – 05 Mei 2026 | Tim pemadam kebakaran (Damkar) Sukoharjo mengerahkan seluruh sumber daya untuk mencari warga yang tidak bersuatu setelah nyemplung ke dalam Telaga Pakujoyo pada Senin (4/5/2026). Upaya pencarian semakin intensif setelah petugas berhasil mengamankan ponsel korban dan menemukan sejumlah pesan serta catatan yang mengandung petunjuk penting.
Setelah menurunkan perahu penyelam, petugas menemukan ponsel dalam keadaan basah namun masih dapat diakses. Data yang berhasil diekstrak meliputi riwayat panggilan terakhir, pesan singkat, dan beberapa foto yang diambil beberapa menit sebelum kejadian. Berikut rangkuman isi penting yang berhasil diidentifikasi:
- Panggilan terakhir berasal dari nomor darurat keluarga korban, mengindikasikan bahwa ia memberi tahu anggota keluarga bahwa ia akan berenang di sekitar telaga.
- Pesan singkat kepada teman dekat berisi: “Aku akan coba selam di tengah, jangan khawatir, cuaca bagus”.
- Foto terakhir menunjukkan pemandangan Telaga Pakujoyo dengan kondisi air jernih, diambil sekitar pukul 09.45 WIB.
Informasi tersebut memberikan gambaran bahwa korban memang berencana menyelam secara mandiri tanpa perlengkapan keselamatan lengkap. Petugas menelusuri jejak visual pada foto, mengidentifikasi titik masuk yang paling memungkinkan, dan menyesuaikan rute penyelaman dengan arus air yang sedang berkurang pada pagi itu.
Selain data digital, tim SAR menggunakan sonar modern dan anjing pelatihan air untuk mendeteksi keberadaan tubuh. Hingga saat ini, pencarian masih berlangsung sepanjang malam dengan bantuan helikopter dan kapal patroli. Warga sekitar pun turut berpartisipasi, menyalakan senter dan menggerakkan perahu kecil untuk membantu proses pencarian.
Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa yang terjadi di Palopo, Sulawesi Selatan, di mana seorang imam masjid bernama Ahmad (62) menjadi korban pengeroyokan setelah menegur anak‑anak yang bermain di dalam masjid. Meskipun latar belakang kedua peristiwa berbeda, keduanya menyoroti pentingnya respons cepat dari pihak berwenang dalam menangani situasi darurat yang melibatkan warga biasa. Ahmad mengalami luka serius di kepala dan wajah, serta harus dibantu keluarga untuk berjalan. Penanganan medis dan proses hukum terus berjalan, menunjukkan komitmen aparat dalam melindungi hak serta keselamatan masyarakat.
Kejadian di Telaga Pakujoyo juga memicu perdebatan tentang regulasi kegiatan rekreasi air di wilayah Jawa Tengah. Pemerintah daerah berjanji akan meninjau kembali prosedur izin masuk ke area telaga, serta meningkatkan sosialisasi pentingnya perlengkapan keselamatan seperti pelampung dan pelatihan dasar menyelam.
Para ahli keamanan air menekankan bahwa penggunaan ponsel saat berada di perairan dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, data yang terekam dapat membantu tim penyelamat mengidentifikasi lokasi dan kondisi korban. Di sisi lain, ketergantungan pada perangkat elektronik dapat menimbulkan rasa aman palsu yang mengurangi kewaspadaan.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai temuan jasad korban. Namun, tim Damkar tetap optimis karena petunjuk yang diperoleh dari ponsel memberikan arah yang jelas. Warga yang menunggu kabar di sekitar telaga terus berdoa dan berharap agar proses pencarian dapat berakhir dengan baik.
Jika ada keluarga atau saksi yang memiliki informasi tambahan, petugas meminta untuk segera menghubungi posko SAR setempat atau menyalurkan melalui saluran resmi yang telah disediakan. Keterlibatan masyarakat sangat penting untuk mempercepat proses pencarian dan menghindari potensi bahaya lebih lanjut.
Kasus ini menjadi pengingat kuat bagi semua pihak bahwa keselamatan pribadi tidak boleh diabaikan, terutama ketika beraktivitas di lingkungan alam yang memiliki potensi bahaya tersembunyi. Diharapkan, pelajaran yang didapat akan mendorong peningkatan kesadaran akan pentingnya persiapan, peralatan, dan prosedur darurat yang tepat.











