Daerah

Pengabdian 18 Tahun Juru Kunci Makam Disabilitas di Kudus: Relawan Tanpa Gaji yang Menginspirasi

×

Pengabdian 18 Tahun Juru Kunci Makam Disabilitas di Kudus: Relawan Tanpa Gaji yang Menginspirasi

Share this article
Pengabdian 18 Tahun Juru Kunci Makam Disabilitas di Kudus: Relawan Tanpa Gaji yang Menginspirasi
Pengabdian 18 Tahun Juru Kunci Makam Disabilitas di Kudus: Relawan Tanpa Gaji yang Menginspirasi

GemaWarta – 02 Mei 2026 | Kudus, Jawa Tengah – Di sebuah pemakaman khusus untuk penyandang disabilitas, sosok yang jarang terdengar namanya menjadi tulang punggung layanan pemakaman selama hampir dua dekade. Ia dikenal sebagai juru kunci makam disabilitas, seorang relawan yang telah mengabdikan 18 tahun kerja ikhlas tanpa menerima gaji. Keterbatasan fisik, birokrasi, dan tantangan sosial tidak menghalangi ia untuk tetap menunaikan tugas mulia, memastikan setiap jenazah mendapatkan perawatan layak sesuai dengan keyakinan dan keperluan khusus.

Berawal dari sebuah kejadian pada tahun 2008, ketika sebuah keluarga korban kecelakaan menghubungi kantor pemakaman untuk meminta bantuan penanganan jenazah yang memiliki kebutuhan khusus. Karena tidak ada petugas resmi yang terlatih, keluarga tersebut memohon bantuan kepada seorang warga setempat yang dikenal memiliki kepedulian tinggi. Pria berusia 32 tahun itu, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Abdul (nama samaran demi privasi), menerima tugas tersebut dengan rasa tanggung jawab yang besar. Sejak saat itu, ia secara sukarela menjadi juru kunci makam, membuka pintu pemakaman setiap pagi, memeriksa kondisi fasilitas, serta memastikan bahwa perlengkapan khusus seperti tandu yang dapat diatur tinggi-rendah tersedia.

🔖 Baca juga:
Piala Dunia 2026: Jepang Dominasi Asia, Kanada Siapkan Panggung Tuan Rumah, dan Rallycross Menggebrak Jakarta

Peran juru kunci makam disabilitas tidak sekadar membuka gerbang. Ia harus memahami prosedur pemakaman yang sensitif, berkoordinasi dengan keluarga, serta memastikan bahwa upacara keagamaan dapat dilaksanakan tanpa hambatan. Dalam banyak kasus, jenazah harus dipindahkan dengan alat bantu khusus, karena kondisi fisik almarhum atau almarhumah tidak memungkinkan penggunaan alat standar. Bapak Abdul pun menyiapkan alat bantu seperti troli beroda besar, selimut anti-slip, serta menyesuaikan tata letak area pemakaman agar memudahkan proses pengangkutan.

Komitmen tanpa bayaran ini mengingatkan pada kisah Bripka Yaman di Sukabumi, yang selama delapan tahun mengurus pemakaman seorang lelaki sebatang kara meski identitasnya sempat menimbulkan kebingungan. Kedua kisah menyoroti nilai kebajikan yang muncul dari hati yang tulus, tanpa mengharapkan imbalan materi. Seperti Yaman, Bapak Abdul menolak tawaran bantuan finansial dari pemerintah atau lembaga swasta, mengklaim bahwa “pelayanan ini adalah hak moral setiap warga, apalagi bagi yang tidak mampu”.

Selama 18 tahun, Bapak Abdul telah melayani lebih dari 2.500 jenazah. Ia mencatat setiap layanan dalam buku log harian, mencatat nama almarhum, tanggal, serta kebutuhan khusus yang dipenuhi. Data tersebut kini menjadi acuan penting bagi pihak pemakaman dalam memperbaiki fasilitas. “Setiap nama yang saya catat adalah sebuah cerita. Saya berusaha mengingatnya, bukan sekadar menuliskan angka,” ujarnya.

🔖 Baca juga:
Tampang Noval Tertangkap Diduga Bunuh Istri Kedua yang Sedang Hamil, Korban Sejak Lahir Mengidap Disabilitas

Selain tugas operasional, juru kunci makam ini juga menjadi pendengar setia bagi keluarga yang berduka. Banyak keluarga yang mengungkapkan rasa terima kasih karena kehadirannya yang tenang membantu mengurangi beban emosional. “Dia selalu ada, bahkan ketika kami belum siap menyampaikan kepergian orang terdekat. Kehadirannya memberi kami rasa aman,” kata Ibu Siti, seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat kecelakaan lalu lintas pada 2019.

Kondisi finansial Bapak Abdul memang sederhana. Ia bekerja sebagai tukang kebun di sebuah sekolah dasar setempat, dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipun begitu, ia menyisihkan sebagian kecil pendapatan untuk membeli perlengkapan pemakaman tambahan. Ia juga mengandalkan sumbangan sukarela dari warga sekitar, yang biasanya berupa bahan baku atau makanan ringan untuk para pekerja pemakaman.

Penghargaan resmi belum pernah ia terima, namun pada bulan Januari 2024, Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar upacara penghargaan kepada “Warga Inspiratif”. Bapak Abdul menolak menerima plakat, melainkan meminta agar dana yang dialokasikan untuk penghargaan dialokasikan untuk perbaikan fasilitas pemakaman disabilitas. “Jika penghargaan itu dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi mereka yang membutuhkan, saya akan lebih senang,” ujarnya.

🔖 Baca juga:
Visa Nusuk Sudah Keluar, Satgas Haji Siap Cegah Pelanggaran, dan Kisah Inspiratif Calon Jemaah 2026

Masalah yang masih dihadapi antara lain kurangnya dana operasional, keterbatasan peralatan khusus, serta kurangnya sosialisasi tentang hak-hak penyandang disabilitas dalam pemakaman. Bapak Abdul mengusulkan agar pemerintah daerah menyiapkan anggaran khusus, serta melatih petugas resmi mengenai penanganan jenazah dengan kebutuhan khusus. Ia berharap kebijakan tersebut dapat mengurangi beban relawan seperti dirinya di masa depan.

Keberlanjutan layanan ini kini menjadi perhatian komunitas lokal. Sejumlah LSM yang bergerak di bidang disabilitas telah menawarkan pelatihan dan peralatan tambahan. Selain itu, generasi muda di Kudus mulai terinspirasi untuk melanjutkan jejak Bapak Abdul, dengan membentuk grup relawan pemakaman yang fokus pada inklusivitas.

Dengan 18 tahun dedikasi tanpa pamrih, juru kunci makam disabilitas di Kudus telah menorehkan jejak yang tidak akan mudah terlupakan. Kisahnya menjadi contoh nyata bahwa kepedulian sosial tidak selalu membutuhkan penghargaan materi, melainkan keikhlasan yang tulus. Semoga upaya dan perjuangannya menjadi inspirasi bagi lebih banyak warga untuk terlibat dalam pelayanan publik, khususnya bagi mereka yang paling membutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *