GemaWarta – 11 Juni 2026 | Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam Iran akan menghadapi serangan besar. Trump mengklaim bahwa AS telah berhasil menyelundupkan 100 juta barel minyak dari Iran melalui Selat Hormuz.
Menurut Trump, operasi penyelundupan minyak tersebut merupakan bagian dari upaya AS untuk memaksimalkan tekanan pada pemerintah Iran. Ia juga mengklaim bahwa AS telah menghancurkan radar Iran, sehingga memungkinkan penyelundupan minyak dilakukan dengan mudah.
Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa ancaman Trump merupakan tanda kelemahan AS. Rouhani juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan AS dan akan terus mempertahankan hak-haknya.
Konflik antara Iran dan AS telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, dengan AS mengenakan sanksi ekonomi pada Iran dan Iran mengancam untuk menutup Selat Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyatakan bahwa Israel akan terus mempertahankan keamanan negaranya dan tidak akan ragu untuk menyerang Iran jika diperlukan.
Konflik ini telah menyebabkan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan telah memicu kekhawatiran tentang potensi perang besar.
Dalam beberapa hari terakhir, telah terjadi beberapa insiden kekerasan antara Iran dan AS, termasuk penembakan drone AS oleh Iran dan serangan balasan AS pada fasilitas militer Iran.
Konflik ini juga telah mempengaruhi harga minyak dunia, dengan harga minyak mentah meningkat lebih dari 30% dalam beberapa bulan terakhir.
AS dan sekutunya telah meminta Iran untuk menghentikan program nuklirnya dan menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan Timur Tengah.
Namun, Iran menolak untuk menghentikan program nuklirnya dan mengklaim bahwa program tersebut digunakan untuk tujuan damai.
Konflik ini masih berlangsung dan belum jelas kapan akan berakhir.











