GemaWarta – 13 Agustus 2026 | Perang Rusia-Ukraina telah membawa keuntungan besar bagi Korea Utara. Menurut laporan intelijen Ukraina, Korea Utara telah memasok hingga 50 persen kebutuhan peluru artileri Rusia pada akhir 2025. Hal ini membuat Korea Utara meraup devisa hingga Rp 393 triliun dari ekspor amunisi dan pengerahan pasukan untuk membantu operasi Rusia di Ukraina.
Keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengunjungi Kepulauan Kuril juga memicu protes keras dari Jepang. Kepulauan Kuril telah lama menjadi sumber ketegangan antara Rusia dan Jepang. Sementara itu, Korea Utara dan Rusia juga mempertimbangkan penambahan pasukan Korea Utara ke tiga wilayah Rusia bagian barat yang berbatasan dengan Ukraina.
Menurut pakar studi Korea, Andrei Lankov, posisi Korea Utara kini lebih kuat dibandingkan 35 tahun terakhir. Ia menggambarkan penjualan senjata dalam jumlah besar kepada Rusia sebagai keuntungan luar biasa bagi Pyongyang. Dengan demikian, Korea Utara dapat memanfaatkan keuntungan ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pengembangan rudal dan program pertahanan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Korea Utara telah mengirim sekitar 10.000 tentara ke Rusia dan terlibat dalam pertempuran melawan pasukan Ukraina. Rencana penambahan pasukan Korea Utara ke Rusia dapat mencapai 50.000 personel pada akhir November. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara Korea Utara dan Rusia semakin erat dalam menghadapi konflik dengan Ukraina.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa perang Rusia-Ukraina telah membawa keuntungan besar bagi Korea Utara. Dengan memanfaatkan keuntungan ini, Korea Utara dapat memperkuat posisinya di kancah internasional dan meningkatkan kemampuan militernya. Namun, perlu diingat bahwa konflik ini juga dapat berdampak negatif pada stabilitas regional dan global.









