GemaWarta – 04 Agustus 2026 | Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, belum memberikan penilaian secara terbuka tentang rencana perdamaian Gaza yang diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Namun, serangan udara Israel di Gaza meningkat tajam pada akhir pekan, menewaskan 28 orang dan menjadi korban jiwa tertinggi dalam beberapa minggu terakhir.
Rencana perdamaian Gaza yang diumumkan oleh Trump melibatkan penghentian serangan dan pembentukan zona bebas senjata di Gaza. Namun, Netanyahu belum memberikan komentar secara terbuka tentang rencana tersebut, dan beberapa pejabat Israel mengatakan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Gaza sebelum Hamas benar-benar dibubarkan.
Utusan khusus PBB untuk Timur Tengah, Nickolay Mladenov, mengeluarkan pernyataan bahwa serangan udara Israel di Gaza telah menewaskan warga sipil dan menghancurkan pasokan medis, serta mengancam upaya perdamaian. Ia juga menegaskan bahwa kedua belah pihak memiliki kewajiban untuk melaksanakan perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober 2025.
Mladenov kemudian bertemu dengan Netanyahu dan utusan senior AS, Aryeh Lightstone, untuk membahas rencana perdamaian. Pertemuan tersebut digambarkan sebagai “konstruktif dan terperinci”, dan Mladenov menegaskan bahwa tujuan akhir dari rencana perdamaian adalah pembubaran senjata Hamas dan transisi ke pemerintahan sipil di Gaza.
Namun, pernyataan resmi Israel setelah pertemuan tersebut menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Gaza dan akan terus melawan ancaman terhadap warga sipil dan tentara Israel. Ini menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan keberhasilan rencana perdamaian dan apakah Netanyahu akan mendukung rencana tersebut secara terbuka.











