GemaWarta – 24 Mei 2026 | Setelah berbulan-bulan konflik, akhirnya terdapat kemajuan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa perjanjian damai telah ‘largely negotiated’, yang berarti bahwa sebagian besar isi perjanjian telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Perundingan damai ini telah berlangsung selama beberapa minggu, dengan tujuan untuk mengakhiri konflik yang telah berkepanjangan antara kedua negara. Perjanjian ini diharapkan dapat membuka jalan bagi normalisasi hubungan antara AS dan Iran, serta mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut Trump, perjanjian damai ini telah disepakati oleh kedua belah pihak, tetapi masih memerlukan finalisasi. Ia juga mengumumkan bahwa Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk ekspor minyak, akan dibuka kembali sebagai bagian dari perjanjian damai.
Perjanjian damai ini juga melibatkan negara-negara lain, termasuk Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Turki, dan Pakistan. Trump telah berbicara dengan para pemimpin negara-negara tersebut untuk membahas perjanjian damai ini.
Perundingan damai antara AS dan Iran telah mengalami beberapa kali kegagalan sebelumnya, tetapi kali ini terdapat harapan bahwa perjanjian damai dapat tercapai. Namun, masih terdapat ketidakpastian mengenai implementasi perjanjian damai ini dan bagaimana kedua belah pihak akan memenuhi kewajiban mereka.
Kesimpulan, perjanjian damai antara AS dan Iran yang ‘largely negotiated’ merupakan langkah maju dalam upaya untuk mengakhiri konflik antara kedua negara. Namun, masih terdapat tantangan yang harus diatasi agar perjanjian damai ini dapat terimplementasi dengan efektif.











