Internasional

Taiwan Berkeras Tidak Akan Disetir Kekuatan Asing, Presiden Lai Ching-te Ingin Lanjutkan Pembelian Senjata dari AS

×

Taiwan Berkeras Tidak Akan Disetir Kekuatan Asing, Presiden Lai Ching-te Ingin Lanjutkan Pembelian Senjata dari AS

Share this article
Taiwan Berkeras Tidak Akan Disetir Kekuatan Asing, Presiden Lai Ching-te Ingin Lanjutkan Pembelian Senjata dari AS
Taiwan Berkeras Tidak Akan Disetir Kekuatan Asing, Presiden Lai Ching-te Ingin Lanjutkan Pembelian Senjata dari AS

GemaWarta – 21 Mei 2026 | Taiwan tegas menyatakan tidak mau disetir oleh kekuatan asing. Presiden Taiwan Lai Ching-te menyebut kekuatan asing tak dapat menentukan masa depan Taiwan. Pernyataan ini muncul beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa penjualan senjata ke Taiwan dapat digunakan sebagai alat tawar-menawar dengan China, yang mengklaim pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya, dan telah mengancam akan merebutnya dengan kekerasan.

Trump telah melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing pekan lalu, di mana Presiden China Xi Jinping mendesak pemimpin AS untuk tidak mendukung Taiwan. Sejak saat itu, pemerintahan Lai telah melakukan serangan balik, bersikeras bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah. Pemerintah Taiwan juga mengatakan bahwa Trump tidak membuat komitmen apa pun kepada China terkait penjualan senjata ke pulau tersebut.

🔖 Baca juga:
Benjamin Netanyahu dan Situasi Timur Tengah: Antara Konflik dan Diplomasi

Taiwan mengatakan China adalah "akar penyebab" ketidakstabilan regional dan penjualan senjata AS merupakan komitmen hukum untuk membela demokrasi pulau tersebut. Dalam pernyataannya, Lai mengatakan pemerintahnya meningkatkan pengeluaran pertahanan untuk "mencegah perang", bukan untuk memulainya. Dia menekankan bahwa saat ini "ancamannya lebih besar dari sebelumnya".

"Taiwan harus memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri dan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," ujar Lai. Lai mengatakan Taiwan bersedia untuk "terlibat dalam hubungan yang sehat dan tertib dengan China" atas dasar kesetaraan, tetapi bersikeras "kami tidak akan mengorbankan kedaulatan dan cara hidup demokratis kami."

Menanggapi hal itu, Kantor Urusan Taiwan China mengatakan pidato Lai "penuh dengan kebohongan dan tipu daya, permusuhan dan konfrontasi," demikian lapor media pemerintah China, Xinhua. Sejak Trump menjabat, Taiwan berada di bawah tekanan hebat untuk meningkatkan pengeluaran untuk perlindungan diri dan meningkatkan investasi di Amerika Serikat. Taiwan telah menggelontorkan miliaran dolar untuk meningkatkan militernya dan mengembangkan industri pertahanannya sendiri.

Namun, Taiwan tetap sangat bergantung pada penjualan senjata berteknologi tinggi AS yang akan dibutuhkannya jika terjadi konflik dengan China. Presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan dirinya ingin melanjutkan pembelian senjata dari Amerika Serikat (AS) apabila memiliki kesempatan berbicara langsung dengan Presiden Donald Trump. Lai menyebut pembelian senjata dari AS penting untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

🔖 Baca juga:
Cina Larang Perusahaan Patuh pada Sanksi AS: Dampak Besar bagi Pasar Minyak Global

Pernyataan itu disampaikan Lai pada Rabu, 20 Mei 2026, saat menandai dua tahun masa pemerintahannya di tengah meningkatnya tekanan dari Tiongkok yang menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri. Mengutip ABC News, Trump belakangan memunculkan kekhawatiran di Taiwan terkait komitmen tradisional Washington terhadap pulau tersebut meski AS tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taipei.

Lai mengatakan jika dapat berbicara langsung dengan Trump, ia akan menegaskan bahwa stabilitas di Selat Taiwan sangat penting bagi keamanan global. Ia juga menuduh Tiongkok sebagai pihak yang merusak perdamaian di kawasan. Selain itu, Lai menyebut peningkatan anggaran pertahanan Taiwan merupakan respons atas ancaman yang dihadapi negaranya.

"Menurut saya, pembelian senjata dari AS merupakan cara penting untuk menjaga stabilitas di Selat Taiwan," ujar Lai. "Saya percaya hanya kekuatan yang bisa membawa perdamaian," lanjutnya. Lai juga menegaskan bahwa tidak ada negara yang berhak mencaplok Taiwan. "Demokrasi dan kebebasan juga tidak boleh dianggap sebagai provokasi," katanya.

Ia berharap Taiwan dapat memperluas kerja sama dengan AS dan negara-negara demokratis lain dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Tiongkok kecam pernyataan Lai. Pekan lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping memperingatkan AS dalam pertemuannya dengan Trump di Beijing bahwa isu Taiwan merupakan persoalan paling sensitif dalam hubungan Tiongkok-AS dan berpotensi memicu konflik jika tidak ditangani dengan tepat.

🔖 Baca juga:
Kapal Pengungsi Rohingya Terbalik di Laut Andaman, 250 Penumpang Hilang dalam Tragedi Laut

Trump sebelumnya telah menyetujui paket senjata senilai USD11 miliar untuk Taiwan pada Desember lalu. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump juga mengatakan persetujuan paket senjata baru senilai USD14 miliar untuk Taiwan akan bergantung pada hubungan dengan Tiongkok dan menyebutnya sebagai "alat negosiasi yang sangat baik." Trump juga mengatakan perlu berbicara dengan pihak yang memimpin Taiwan tanpa menyebut nama Lai, yang oleh Beijing dianggap sebagai tokoh separatis.

Dalam pidatonya, Lai menegaskan demokrasi bukanlah "hadiah dari langit." "Masa depan Taiwan tidak dapat diputuskan oleh kekuatan eksternal, juga tidak boleh dibajak oleh ketakutan, perpecahan, atau kepentingan jangka pendek," ujarnya. Lai mengatakan Taiwan tetap terbuka untuk pertukaran yang sehat dan teratur dengan Tiongkok berdasarkan prinsip kesetaraan dan martabat, tetapi menolak upaya yang "membungkus unifikasi sebagai perdamaian."

Selain isu geopolitik, Lai juga mengumumkan rencana senilai USD3,1 miliar untuk mempercepat transformasi usaha kecil dan menengah serta industri tradisional Taiwan melalui dukungan sektor teknologi. Sementara itu, juru bicara Kantor Urusan Taiwan Tiongkok Zhu Fenglian menuduh Lai menyebarkan "kebohongan dan konfrontasi" terkait perubahan status quo di Selat Taiwan. Zhu menilai Lai tetap mendorong agenda kemerdekaan Taiwan dan memicu ketegangan lintas selat. "(Lai) adalah perusak status quo di Selat Taiwan," kata Zhu seperti dikutip Xinhua.

Kesimpulan, situasi di Selat Taiwan tetap tegang dengan adanya ketegangan antara Taiwan dan Tiongkok. Pembelian senjata dari AS dan peningkatan anggaran pertahanan Taiwan merupakan upaya untuk menjaga stabilitas di kawasan. Namun, pernyataan Lai bahwa Taiwan tidak akan disetir oleh kekuatan asing dan pembelian senjata dari AS penting untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan menimbulkan kekhawatiran di Tiongkok. Oleh karena itu, penting bagi Taiwan untuk terus memperkuat hubungan dengan AS dan negara-negara demokratis lain untuk menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *