GemaWarta – 19 April 2026 | Kelapa Gading, Jakarta Utara – Ketua Rukun Warga (RW) 02/08, Budi Santoso, memprakarsikan program pengelolaan lingkungan dengan mengajak warga setempat untuk tangkap sapu-sapu. Program ini diluncurkan pada Jumat, 17 April 2026, bertepatan dengan aksi penangkapan ikan invasif yang digencarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di lima wilayah kota. Warga yang berhasil mengumpulkan ikan sapu-sapu akan mendapatkan imbalan sebesar Rp5.000 per kilogram, sebuah insentif yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengurangi populasi spesies invasif tersebut.
Langkah ini tidak lepas dari dukungan gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang pada 14 April 2026 menginstruksikan semua wali kota administratif untuk memperkuat penanganan ikan sapu-sapu. Ia mencontohkan aksi pembersihan di depan Plaza Indonesia sebagai model tindakan masif. Pemerintah provinsi melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) kemudian meluncurkan operasi serentak di lima wilayah, termasuk Kelapa Gading Barat, yang menjadi salah satu titik fokus utama.
Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys disjunctivus) telah menguasai lebih dari 60 % biota perairan Jakarta. Kemampuan adaptasinya yang tinggi, bahkan di perairan keruh dan tercemar, membuat ikan lokal sulit bersaing untuk sumber makanan dan memakan telurnya. Akibatnya, ekosistem sungai mengalami penurunan keanekaragaman hayati yang signifikan.
Dinas KPKP melaporkan total tangkapan mencapai 6,9 ton pada aksi Jumat lalu, setara dengan 68.880 ekor ikan. Jakarta Selatan menyumbang volume terbesar dengan 5,3 ton, diikuti Jakarta Timur (825,5 kg) dan Jakarta Pusat (565 kg). Di Jakarta Utara, titik penangkapan utama berada di Sungai Kendal, tepat di kawasan Kelapa Gading Barat, yang kini menjadi sorotan publik berkat inisiatif Budi Santoso.
Program Budi Santoso melibatkan lebih dari 200 relawan warga, yang dibagi dalam tim‑tim kecil dan dilengkapi dengan jaring, keranjang, serta perlengkapan keselamatan. Setiap tim mencatat berat ikan yang berhasil diangkat, kemudian menyerahkannya ke pos penampungan yang dikelola Dinas KPKP. Penilaian berat dilakukan secara transparan, dengan bukti foto dan timang digital untuk menghindari kecurangan.
- Insentif: Rp5.000 per kilogram ikan sapu-sapu.
- Target harian: Minimal 10 kg per tim.
- Lokasi utama: Sungai Kendal, Kelapa Gading Barat; Kali Semongol, Jakarta Barat; Pintu Air Outlet Setu Babakan, Jakarta Selatan.
Warga yang berpartisipasi melaporkan dampak positif tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada solidaritas sosial. “Kami merasa bangga bisa membantu memperbaiki kualitas air sungai di lingkungan kami,” ujar Rina, salah satu relawan wanita berusia 34 tahun. “Selain mendapatkan uang, kami juga belajar tentang pentingnya menjaga ekosistem,” tambahnya.
Pemerintah DKI menegaskan bahwa program insentif ini bersifat sementara, sebagai langkah transisional sampai populasi ikan sapu-sapu dapat ditekan secara signifikan. Rencana jangka panjang mencakup edukasi masyarakat, peningkatan fasilitas pengolahan limbah, serta pengenalan predator alami yang aman bagi ekosistem lokal.
Sejumlah ahli biologi perairan menilai bahwa kombinasi antara penangkapan massal dan edukasi publik merupakan strategi yang efektif. Prof. Dr. Maya Lestari, Fakultas Ilmu Kelautan Universitas Indonesia, menyatakan, “Jika masyarakat terus termotivasi secara ekonomi, peluang untuk mengurangi tekanan pada spesies invasif akan lebih besar, sekaligus memberi ruang bagi spesies endemik untuk pulih kembali.”
Meski demikian, tantangan tetap ada. Ikan sapu-sapu dikenal memiliki kemampuan reproduksi tinggi; satu ekor betina dapat menghasilkan hingga 800 telur per siklus. Oleh karena itu, upaya berkelanjutan diperlukan, termasuk monitoring populasi secara periodik dan pengembangan program pemanfaatan hasil tangkapan, seperti produksi pakan ternak atau bahan baku industri.
Secara keseluruhan, inisiatif Ketua RW Kelapa Gading telah menambah dimensi baru pada aksi pemerintah provinsi. Dengan menggabungkan motivasi ekonomi dan kepedulian lingkungan, program ini membuka peluang bagi warga untuk menjadi agen perubahan langsung di lapangan. Jika berhasil, model serupa dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi permasalahan ikan invasif.
Keberhasilan program akan diukur dari penurunan persentase ikan sapu-sapu di perairan Kelapa Gading dalam enam bulan ke depan, serta meningkatnya partisipasi warga dalam program kebersihan lingkungan lainnya.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat, diharapkan ekosistem sungai Jakarta dapat pulih, sekaligus menumbuhkan budaya kepedulian lingkungan yang berkelanjutan.











