BERITA

Musim Kemarau: Mengapa Udara Bisa Terasa Lebih Dingin dan Potensi Kebakaran Meningkat

×

Musim Kemarau: Mengapa Udara Bisa Terasa Lebih Dingin dan Potensi Kebakaran Meningkat

Share this article
Musim Kemarau: Mengapa Udara Bisa Terasa Lebih Dingin dan Potensi Kebakaran Meningkat
Musim Kemarau: Mengapa Udara Bisa Terasa Lebih Dingin dan Potensi Kebakaran Meningkat

GemaWarta – 21 Juli 2026 | Musim kemarau biasanya identik dengan cuaca panas dan langit yang cerah. Namun, pada waktu tertentu, udara justru bisa terasa lebih dingin, terutama saat malam hingga pagi hari. Fenomena ini dikenal sebagai bediding, yang membuat suhu udara di sejumlah wilayah bisa turun cukup drastis.

Kondisi ini biasanya lebih terasa di daerah dataran tinggi, tetapi daerah lain juga bisa ikut merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya. Ada beberapa faktor yang membuat suhu pada musim kemarau bisa terasa berbeda dibandingkan musim hujan. Lantas, kenapa udara justru bisa terasa lebih dingin saat musim kemarau?

🔖 Baca juga:
Hari Ayah: Antara Kasih Sayang dan Kesulitan

Saat musim kemarau, langit biasanya lebih sering cerah dan awan yang menutupi langit juga lebih sedikit. Kondisi ini membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan bumi bisa turun dan membuat malam hingga pagi terasa lebih dingin.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, kondisi tersebut merupakan salah satu proses fisik yang menyebabkan munculnya fenomena bediding pada musim kemarau. Jadi, meski siang hari terasa panas karena sinar Matahari langsung mencapai permukaan bumi, suhu bisa turun cukup drastis setelah Matahari terbenam.

🔖 Baca juga:
Daerah Istimewa Yogyakarta: Pusat Pembangunan dan Pelayanan Publik yang Berkualitas

Selain langit yang cerah, kondisi udara saat musim kemarau juga ikut memengaruhi bagaimana suhu terasa di tubuh. Kelembapan rendah di musim kemarau bikin udara kering, sehingga tubuh bisa merasakan perubahan suhu dengan cara yang berbeda dibandingkan saat udara lembap. Kondisi ini dapat membuat udara dingin pada malam hingga pagi hari terasa lebih menusuk, terutama ketika suhu memang sedang turun.

Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dan lebih kering sehingga potensi kebakaran meningkat. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta warga lebih waspada terhadap risiko kebakaran selama musim kemarau. Oleh karena itu, Pramono meminta setiap RW memiliki alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah awal untuk mencegah kebakaran.

🔖 Baca juga:
Jadwal Sholat Hari Ini: Panduan Tepat Waktu untuk Umat Muslim di Indonesia

BMKG juga memprediksi bahwa sejumlah wilayah di Indonesia masih berpotensi mengalami hujan lebat dan angin kencang pada Rabu, 22 Juli 2026, meski musim kemarau terus meluas. Kondisi iklim Indonesia didominasi oleh curah hujan rendah yang mencakup 72,38 persen wilayah.

Kesimpulan, musim kemarau tidak hanya identik dengan cuaca panas, tetapi juga bisa membawa fenomena udara dingin dan potensi kebakaran yang meningkat. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menghadapi musim kemarau yang panjang dan kering.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *