Bisnis

Saham BBRI Terkoreksi, Apa yang Mendorong Pelemahan Saham Perbankan?

×

Saham BBRI Terkoreksi, Apa yang Mendorong Pelemahan Saham Perbankan?

Share this article
Saham BBRI Terkoreksi, Apa yang Mendorong Pelemahan Saham Perbankan?
Saham BBRI Terkoreksi, Apa yang Mendorong Pelemahan Saham Perbankan?

GemaWarta – 19 Mei 2026 | Saham perbankan mengalami pelemahan pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Mayoritas saham sektor perbankan tidak berhasil mencapai zona hijau pada akhir perdagangan. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan koreksi terdalam sebesar 1,92% menjadi Rp 3.060. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 1,67% menjadi Rp 4.130, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun harga 1,81% menjadi Rp 3.800.

Menurut analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya, pelemahan saham perbankan hari ini dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk sentimen global dan domestik. Pasar masih mencermati potensi foreign outflow setelah rebalancing MSCI dan FTSE, ditambah tekanan rupiah yang kembali melemah mendekati Rp17.600/USD.

🔖 Baca juga:
GBK Raup Pendapatan Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun

Andrey juga menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak dan aksi risk-off investor asing juga turut menekan sektor perbankan. Ia melihat sentimen utama yang bakal memengaruhi saham bank di antaranya rebalancing MSCI dan FTSE, keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) terkait suku bunga dan stabilitas rupiah, serta pergerakan nilai tukar dan imbal hasil US Treasury.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar suku bunga program Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar diturunkan hingga di bawah 9%. Hal ini ditujukan untuk memperbaiki ketimpangan akses pembiayaan yang membebani pelaku usaha mikro. PNM sendiri merupakan anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kepemilikan 99,99%.

🔖 Baca juga:
Kinerja Terbaru Saham BUMI: Rekomendasi Beli di Tengah Turunnya IHSG April 2026

Edi Chandren, Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, mengatakan bahwa penurunan yield menjadi 9% berpotensi memangkas total pendapatan bunga dan margin PNM menjadi Rp 5,2 triliun. Hal ini akan menyebabkan PNM membukukan rugi usaha sebesar sekitar Rp 9,5 triliun, mengingat beban usaha PNM sendiri, termasuk beban provisi, mencapai Rp 13 triliun pada 2025.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami pelemahan pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. IHSG turun 1,85% ke 6.599,24. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan. Namun, Andrey Wijaya melihat bahwa sektor perbankan berpotensi mengalami teknikal rebound jika tekanan rupiah dan arus dana asing mereda.

🔖 Baca juga:
Update Harga BBM Gorontalo Hari Ini: Pertamax Rp12.600, Cek Daftar Se-Indonesia

Andrey juga merekomendasikan saham big banks, seperti BMRI, BBRI, dan BBCA, karena memiliki fundamental kuat, CASA solid, likuiditas baik, dan dividend yield menarik. Ia melihat bahwa investor umumnya lebih memilih bank dengan fundamental kuat di tengah volatilitas pasar dan tekanan arus dana asing.

Kesimpulan, pelemahan saham perbankan dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk sentimen global dan domestik. Namun, sektor perbankan berpotensi mengalami teknikal rebound jika tekanan rupiah dan arus dana asing mereda. Investor disarankan untuk memilih bank dengan fundamental kuat dan dividend yield menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *