GemaWarta – 11 Mei 2026 | Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam hal devisa dan utang. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa devisa yang dikeluarkan Indonesia untuk impor LPG mencapai Rp120 triliun hingga Rp150 triliun setiap tahun. Hal ini membebani anggaran subsidi energi dan mempengaruhi kinerja ekonomi nasional.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa rasio utang Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Namun, utang produktif dan terukur diperlukan untuk ekspansi dan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga berencana untuk mengembangkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengatasi masalah stunting dan ketimpangan akses pangan berkualitas.
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran juga berdampak pada harga energi global dan mempengaruhi kinerja ekonomi Indonesia. Perusahaan minyak besar seperti BP, Shell, dan TotalEnergies mencatat lonjakan laba signifikan pada kuartal pertama 2026. Sementara itu, bank-bank besar dunia seperti JP Morgan dan Goldman Sachs meraup keuntungan tinggi dari volatilitas pasar keuangan akibat perang.
Untuk meningkatkan kinerja ekonomi dan mengatasi tantangan tersebut, pemerintah perlu meningkatkan efisiensi anggaran dan mengembangkan program yang tepat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengatasi masalah ekonomi. Dengan demikian, Indonesia dapat meningkatkan kinerja ekonomi dan mencapai tujuan pembangunan yang diinginkan.











