GemaWarta – 26 April 2026 | Krisis energi global terus mengguncang pasar internasional, memaksa negara‑negara mencari solusi cepat untuk menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan inflasi. Di tengah ketegangan geopolitik dan sanksi ekonomi, beberapa negara tetap membeli minyak Rusia, sementara Indonesia mengandalkan batu bara domestik sebagai penopang utama. Kebijakan energi yang beragam ini mencerminkan dinamika kompleks dalam upaya mengatasi krisis energi.
India dan China menempati posisi teratas sebagai pembeli minyak Rusia. Kedua negara memanfaatkan harga yang kompetitif untuk menekan biaya impor energi, menjaga harga kebutuhan pokok, dan memastikan pasokan yang konsisten bagi sektor industri serta transportasi. India, dengan populasi lebih dari 1,4 miliar, memerlukan energi dalam jumlah besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi, sedangkan China, sebagai pusat manufaktur dunia, mengandalkan pasokan stabil untuk pabrik‑pabriknya.
Turki, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan juga menjalin kerja sama energi dengan Moskow. Turki, yang terletak di persimpangan Asia‑Eropa, memanfaatkan akses logistiknya untuk diversifikasi pemasok energi, sementara Indonesia melihat peluang dalam minyak Rusia meski berada dalam fase transisi energi.
- India – volume pembelian tinggi, fokus pada stabilitas harga.
- China – kebutuhan industri dan logistik yang masif.
- Turki – diversifikasi sumber energi.
- Indonesia – kombinasi pembelian minyak dan peningkatan produksi batu bara.
- Malaysia, Filipina, Korea Selatan – mengeksplorasi opsi pasokan alternatif.
Sementara itu, laporan J.P. Morgan Asset Management menempatkan Indonesia sebagai negara kedua paling tangguh dalam menghadapi guncangan energi global. Kekuatan utama Indonesia terletak pada produksi batu bara domestik yang menyumbang hampir setengah (48%) konsumsi energi akhir nasional. Gas bumi domestik (22%) dan energi terbarukan (7%) melengkapi portofolio energi, memberikan “insulation factor” sebesar 77%—hanya di belakang Afrika Selatan.
Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan kebetulan. Koordinasi lintas kementerian, optimalisasi produksi migas, dan percepatan transisi energi melalui pengembangan energi baru terbarukan (EBT) menjadi pilar utama. Pemerintah juga mendorong adopsi kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) serta diversifikasi jalur logistik untuk mengurangi ketergantungan pada selat‑selat strategis seperti Hormuz, yang hanya menyumbang sekitar 1% konsumsi energi primer nasional.
Di sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah menambah tekanan pada pasar energi. Iran mengancam akan menutup jalur minyak Timur Tengah jika Amerika Serikat melanjutkan blokade, sebuah ancaman yang dapat memperparah ketidakpastian pasokan minyak dunia. Meskipun ancaman tersebut belum terwujud, potensi gangguan aliran minyak meningkatkan urgensi bagi negara‑negara konsumen untuk mencari alternatif, termasuk memperkuat hubungan dengan Rusia atau mempercepat diversifikasi energi domestik.
Di tingkat daerah, respons terhadap krisis energi juga terlihat. Pemerintah Kota Bandung memperkuat kebijakan kerja dari rumah (WFH) dan mengimplementasikan pengawasan ASN berbasis digital, mengurangi konsumsi listrik di kantor‑kantor pemerintah. Sementara itu, PLN berperan aktif dalam mendukung percepatan program PSEL (Pengembangan Sistem Energi Listrik) di kota‑kota seperti Denpasar, Bogor, dan Bekasi, yang menitikberatkan pada integrasi energi terbarukan dan efisiensi penggunaan listrik.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa krisis energi tidak hanya menjadi tantangan bagi pemerintah pusat, melainkan juga mendorong inovasi di tingkat lokal. Kombinasi kebijakan makro, strategi diversifikasi pasokan, serta inisiatif daerah yang proaktif dapat memperkuat ketahanan energi nasional.
Kesimpulannya, krisis energi global menuntut respons yang holistik. Sementara negara‑negara besar seperti India dan China mengamankan pasokan minyak Rusia, Indonesia mengandalkan kekayaan batu bara domestik dan kebijakan terkoordinasi untuk mempertahankan stabilitas. Ancaman geopolitik di Timur Tengah menambah kompleksitas, namun upaya lokal seperti program WFH dan dukungan PLN menunjukkan bahwa solusi dapat ditemukan di semua tingkat pemerintahan. Dengan sinergi antara kebijakan nasional, kerjasama internasional, dan inisiatif regional, Indonesia berada pada posisi yang relatif kuat untuk menghadapi tantangan energi di masa depan.











