GemaWarta – 13 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi dalam beberapa hari terakhir. Pada hari Jumat, 12 Juni 2026, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan sore. Kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal menopang rupiah.
Mengutip Antara, nilai tukar (kurs) rupiah naik 129 poin atau 0,71% menjadi 17.860 per dolar AS dari sebelumnya 17.989 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat ke level 17.921 per dolar AS dari sebelumnya 17.981 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal. Faktor domestik yang membantu rupiah adalah koordinasi BI dan pemerintah yang lebih kuat, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah, serta data APBN Mei yang relatif lebih baik.
Defisit APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat. Langkah BI menaikkan suku bunga acuan memberikan bantalan terhadap rupiah. Selain itu, penguatan data tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih tinggi mulai menarik kembali sebagian dana asing, terutama ke SRBI serta SBN tenor pendek dan menengah.
Namun, pasar masih menunggu bukti bahwa disiplin fiskal tersebut bisa dipertahankan hingga akhir tahun, terutama karena belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester kedua dan risiko subsidi energi masih besar. Di sisi lain, penguatan rupiah juga tertahan kombinasi penguatan dolar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, dan masih tingginya ketidakpastian global.
Berita dari Timur Tengah membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, pelaku pasar masih mencermati arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi AS. Selama dolar AS masih kuat dan harga minyak masih mudah bergejolak, rupiah tetap rentan meskipun BI sudah menaikkan suku bunga.
Sementara itu, Danantara Indonesia berhasil menghimpun dana US$1,5 miliar atau sekitar Rp26,92 triliun dari penerbitan obligasi dolar AS perdana di pasar internasional. Penggalangan dana tersebut dilakukan melalui unit usaha Danantara Investment Management (DIM) dan menjadi penerbitan obligasi dolar pertama sejak lembaga itu dibentuk pada Februari 2025.
Minat investor terhadap surat utang tersebut terbilang tinggi. Berdasarkan dokumen penawaran, total pemesanan mencapai lebih dari US$4,6 miliar hingga Kamis malam. Tingginya permintaan membuat Danantara menaikkan nilai penerbitan obligasi dari target awal sekitar US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar.
Dana yang dihimpun berasal dari penerbitan dua seri obligasi, masing-masing senilai US$750 juta untuk tenor lima tahun dan US$750 juta untuk tenor 10 tahun. Obligasi tenor lima tahun ditetapkan dengan imbal hasil (yield) 5,35 persen, sementara tenor 10 tahun menawarkan yield 5,95 persen.
Besarnya minat investor juga memungkinkan Danantara menurunkan tingkat imbal hasil akhir sebesar 35 basis poin dibandingkan panduan harga awal yang ditawarkan kepada pasar. Sebelumnya, panduan awal menetapkan yield sekitar 5,70 persen untuk obligasi lima tahun dan 6,30 persen untuk obligasi 10 tahun.
Penerbitan obligasi ini menjadi salah satu ukuran minat investor asing terhadap aset Indonesia di tengah berbagai perhatian pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah juga mengalami fluktuasi. Pada hari Sabtu, 1 Februari 2025, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tercatat di angka 8.170,65 pada tanggal 1 Februari.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dolar AS mengalami penurunan sebesar 50,04 persen terhadap rupiah. Namun, sebenarnya 1 dolar berapa rupiah? Berdasarkan data Bank Indonesia, pada hari ini Minggu, 2 Februari 2025, kurs 1 dolar ke rupiah dipatok pada level 16 ribuan.
Di lain sisi, kasus dugaan love scam yang menyeret nama Heric, warga keturunan Kamerun yang beralamat di Cirebon, kembali mencuat. Korban asal Surabaya bernama Widiastuti atau Wiwie mengaku mendapat tawaran uang damai sebesar 10.000 dolar AS atau sekitar Rp180 juta dari pihak keluarga terduga pelaku.
Padahal, Wiwie mengaku mengalami kerugian sekitar Rp2,1 miliar dalam peristiwa yang ia sebut terjadi di Jakarta pada 14 Januari 2025. Wiwie menolak tawaran tersebut dan menilai jumlah uang yang ditawarkan jauh dari nilai kerugian yang dialaminya.
Kesimpulan, nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi dalam beberapa hari terakhir. Penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal. Sementara itu, Danantara Indonesia berhasil menghimpun dana US$1,5 miliar dari penerbitan obligasi dolar AS perdana di pasar internasional.











